Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Agustus 2020

Aku, Dia, dan Lelaki dalam Hidup Kami (IDN Times)

IDN Times
Aku merasa ada lebam di hatiku

Saat ini dia berdiri di hadapanku dengan tatapan yang sama. Seperti delapan tahun lalu. Selalu hangat bak fajar pagi, juga melumpuhkan hati. Delapan tahun lalu–meski tak lama–dia pernah menjadi bagian dari hari-hariku, mewarnai masa remajaku. Meninggalkan cerita manis dan getir yang masih tertoreh di hati. Detik ini juga kubiarkan kenangan mengambil alih waktu, melemparku ke masa lalu.

Sekolah baru berarti lingkungan baru, teman-teman baru, dan hari-hari baru siap menyambutku tatkala Mama dimutasi ke tempat kerja baru. Sesungguhnya, hidup kami memang tidak sama lagi sejak kepergian Papa. Ya, Papa meninggalkan aku dan Mama tanpa sebaris kalimat perpisahan pun yang Papa tinggalkan untukku. Sulit kupercaya dan kumengerti, bagaimana bisa seorang ayah melakukan hal itu kepada aku, anak tunggalnya? Bukankah aku buah dari cinta mereka? Memikirkan kenyataan itu terlalu menyakitkan buatku.

Senin, 30 Maret 2020

Nat dan Jari-jarinya (Solopos 18 Oktober 2015)

Cerpen ini dimuat di Solopos edisi 18 Oktober 2015

“Nat, tunggu!” panggil Haura, berusaha menghentikan langkah Nat yang tergesa begitu keluar kelas. Namun, Nat seolah berusaha menghindarinya.

“Aku harus segera pulang, Ra! Ibuku sedang sakit!” Nat balas berteriak.

Haura hanya bisa menghela napas panjang. Sebenarnya, ia juga merasa tidak enak hati dan segan untuk menanyakan, apa yang dilakukan Nat saat ulangan Matematika tadi? Haura tidak percaya, Nat melakukan kecurangan itu. Meskipun ia tahu Nat lemah dalam pelajaran Matematika, tetapi Haura tidak suka bila sahabat baiknya itu menyontek saat ulangan.

Kamis, 18 Juli 2019

Tentangmu yang Menguasai Ruang Sunyi di Hatiku (IDN Times)

IDN Times
Kamu mungkin akan tertawa melihat kebodohanku

Ada yang tidak mampu kulupa. Tentang percakapan dini hari kita. Percakapan yang hampir setiap dini hari kita lakukan, bahkan tak jarang baru berakhir ketika pagi menjelang. Sesuatu yang mungkin tidak kamu tahu, aku selalu berusaha mengoleskan sedikit kayu putih pada kelopak mataku, sekadar berusaha mengusir kantuk yang menerjang. Bahkan, aku masih berusaha menahan kepalaku yang berkali-kali terjatuh sekadar ingin membalas pesanmu dan menanti pesan apa yang kamu kirim untukku.

Aku selalu lupa, ah bukan, aku memang tidak ingat, mengapa kita bisa begitu dekat. Aku tahu, kamu bukan sosok yang mudah dekat dengan siapa pun. Aku juga tahu, kamu bukan tipe orang yang mudah membuka hatimu untuk siapa pun.

Sulit kupercaya saat kamu memberikan nomormu dengan alasan agar aku punya teman berbincang saat terjaga tengah malam. Saat ini, aku menyesal tidak menanyakan alasanmu. Apa aku terlalu terkesima mengetahui siapa dirimu? Apa aku terlalu bahagia kamu membuka hatimu untukku? Entahlah.

Terlalu banyak perbedaan di antara kita. Kamu seseorang yang memandang segalanya berdasarkan analisismu dan aku selalu menyertakan perasaanku. Dalam hal apa pun, kita tidak pernah bertemu dalam satu titik yang sama. Percakapan kita melalui pesan-pesan singkat dan panjang pun tak pernah berujung mufakat. Bagaimana bisa, aku yang tidak suka diatur dan kamu yang suka mengatur serta memaksakan pendapatmu–yang aku akui kebenarannya–bisa terlibat percakapan panjang seolah tak berujung? Lucunya, kita seolah enggan untuk mengakhiri percakapan kita. Ya, itulah kita. Aku dan kamu.

Sejujurnya, aku menyukai percakapan dini hari kita. Saat tumpukan pekerjaan memaksamu untuk jeda sejenak. Saat dingin pagi membuat tanganku gemetar mengetik pesan untukmu. 

Aku menikmati setiap detik yang bergulir bersamamu. Apakah ini salah? Perasaan yang aku miliki? Rasa yang tumbuh di hatiku? Perasaan yang menyiksaku. Perasaan yang membuatku takut suatu hari kamu akan pergi dariku. Ketakutan yang tidak beralasan dan konyol. Mungkin karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan. Menyedihkan, bukan?

Tidak ada yang salah di antara kita. Mungkin ini hanya rasaku saja. Sejujurnya, kamu tidak pernah menawarkan rasa apa pun padaku. Tidak juga hatimu. Sejak awal aku sudah tahu semuanya. Aku mengerti seperti apa hubungan kita. Mungkin karena aku terlalu nyaman bersamamu. Membicarakan segala hal denganmu.

Ah, seharusnya tidak kubiarkan hatiku bermain-main di hatimu. Tidak seharusnya kubiarkan perasaanku mengembara terlalu jauh hingga memasuki ruang di hatimu. Kamu seolah menyediakan celah yang memudahkan aku masuk ke dalam hatimu. 

Perempuan seperti apa aku ini? Saat ini, apakah terlambat bagiku untuk menghapusmu? Sesulit inikah melepasmu dari ingatanku? Saat aku sadari, betapa aku selalu merindukan percakapan dini hari kita. Kerinduan yang sudah menjadi candu untukku.

Selamat malam, sudah tidur? Apa yang kamu lakukan seharian ini? Apakah harimu menyenangkan? Tadi kamu tidak terlambat makan siang, ‘kan? Sudah makan malam? Tidurlah, jangan terlalu malam! Tidak baik untuk kesehatanmu. Apa perlu aku menyanyi untukmu? Ingin aku pilihkan lagu untuk pengantar tidurmu malam ini? Jangan "And I am Telling You I’m Not Going" lagi, apa kamu tidak bosan lagu itu? Tidak juga "Perfect" atau "Flashlight". Bagaimana kalau "Menua Bersama"? Saling bantu berdiri tersenyum dan menatih ....

Kamu sudah menyelesaikan novel yang kamu pinjam kemarin? Bagaimana ceritanya? Apakah aku harus membacanya juga? Oya, film yang aku bilang kemarin, apa sudah kamu tonton? Bagaimana menurutmu? Apa kita akan mengulasnya malam ini? Hmmm, jangan terlalu lelah. Jaga kesehatanmu. Aku sedih bila kamu sakit. Kamu membuat aku cemas. Jangan lakukan itu.



Betapa aku merindukan semua pertanyaan itu memenuhi aplikasi chat-ku. Perhatian kecil yang tidak pernah berhenti membuat perasaanku melambung. Perhatian kecil yang membuatku tidak peduli siapa dirimu. Perhatian kecil yang membuat aku menjadi perempuan serakah dan tidak tahu malu.

Konyolnya, hatiku menolak untuk tersadar. Ah, begitu besarkah artimu bagi diriku? Sehingga aku menolak untuk kehilanganmu? Kurasa, ada yang salah dengan isi kepalaku. Juga hatiku.

Kata perpisahan memang tidak pernah terlontar darimu. Baik secara langsung saat kita bertemu maupun melalui pesan. Namun, aku terlalu enggan untuk menanyakan perubahan sikapmu. Bisa jadi, aku terlalu takut mendengar pengakuanmu bila kutanyakan kesenjangan yang tercipta di antara kita. 

Takut kamu mengatakan sesuatu yang akan membuatku terluka. Takut kamu mengatakan bahwa apa yang terjadi di antara kita adalah suatu kesalahan atau kekhilafan? Ketakutan yang seharusnya tidak boleh ada. Ya, seharusnya karena kita tidak pernah bersepakat dalam satu rasa.

Sejak awal kita tahu di mana posisi kita masing-masing. Di mana sebenarnya hati kita berada. Oh, bukan. Tepatnya, di mana hatimu berada. Namun, aku berusaha tidak peduli akan kenyataan itu. Aku terlalu nyaman bersamamu. Aku takut kehilanganmu. Aku takut bila tidak bersamamu, melewati dini hari yang hening tanpa menerima pesanmu. 

Tidak rela kehilangan perhatian-perhatian kecil yang membungkus hangat hatiku. Perhatian kecil yang tak pernah gagal menghadirkan senyum tipis di bibirku, degup tak beraturan di jantungku, serta perasaan asing yang mengaliri sel-sel di tubuhku. Konyolnya, aku izinkan perasaanku lepas kendali karenamu.

Sesungguhnya, aku merindukan percakapan dini hari kita. Saat anganku tak mampu melupakanmu sedikit pun. Tentangmu yang terlalu dalam tertinggal di ingatanku. Menguasai seluruh ruang di kepalaku. Sesulit apa pun aku berusaha untuk melenyapkanmu dari ingatanku, tetapi aku selalu balik pada titik yang sama, aku terlalu takut kehilanganmu. Kamu mungkin akan tertawa melihat kebodohanku.

Aku selalu ingat apa yang kamu katakan di awal kedekatan kita. Saat itu aku hanya tertawa tanpa suara mendengar kata-katamu. Bila kamu tahu apa yang terjadi dengan hatiku, mungkin kamu yang akan tertawa melihat kebodohanku. Bisa jadi juga kamu kasihan padaku.

Kamu berhasil mengacaukan perasaanku. Mematahkan hatiku. Konyolnya, aku butuh patah berkali-kali untuk bisa melupakanmu. Membencimu. Terlalu banyak ruang di hati dan ingatanku yang kamu curi dariku. Menyedihkannya, kamu tidak tahu itu. Mungkin kamu memang tidak peduli itu.

"Jangan jatuh cinta padaku karena kamu akan terluka. Aku telah memilih di mana hatiku berlabuh. Tapi, jika kamu sedang bersedih dan perlu teman bercerita, hubungi aku. Aku akan selalu ada untukmu. Aku akan menghiburmu. Aku akan membuatmu kembali tersenyum."

Kamu benar. Kamu telah berhasil membuatku tersenyum sekaligus menangis. Tidak ada sehari pun tentangmu yang lolos dari ingatanku. Tidak ada yang baik-baik saja denganku setelah kita menjauh. Ini bukan salahmu. Semua tentang rasa yang ada di hatiku. Sekali pun aku tidak pernah menyesalinya. Tentang rasa yang tidak pernah sampai ke hatimu. Tentang ingatan yang tidak bisa mati di benakku.

Sejujurnya, aku masih merindukan percakapan dini hari kita. Aku terlalu payah untuk melupakan segala tentangmu. Sepayah usahaku untuk tidak mengingat percakapan dini hari kita. Sesuatu yang ingin aku hapus tentangmu. Tentangmu yang menguasai ruang sunyi di hatiku. Ternyata sesulit ini melupakanmu. Apa aku yang terlalu payah dalam hal melupakan?

Bagaimana denganmu? Aku yakin kalian baik-baik saja. Aku melihat rona bahagia itu di wajah kalian. Ya, kamu dengan pemilik hati di mana kamu labuhkan hatimu. Aku masih waras dan tahu diri untuk tidak menjadi orang ketiga bagi hubungan kalian. Aku selalu mampu menyimpan perasaanku rapat-rapat darimu. Aku tidak pernah bisa merusak hubungan kamu dengan dia. Mungkin juga aku tidak punya keberanian untuk melakukannya. Sekalipun pikiran jahat itu ada di kepalaku.

Dini hari ini aku hanya ingin membencimu. Apakah itu bisa untuk menghapus seluruh tentangmu?(alp)


** Untuk siapa pun yang masih terjebak dalam friendzone


Sumber gambar: Pixabay/Free-Photos
17/07/19

Sabtu, 22 Juni 2019

Selalu Ada Maaf untuk Cinta yang Tidak Pernah Salah (IDN Times)

IDN Times

Cinta memiliki jalannya sendiri untuk bahagia

Entah apa yang membuatku tergerak dan melunakkan hatiku yang selama ini keras untuk kembali ke rumah. Kembali ke masa lalu dan memutar kembali roda kenangan yang pernah aku jalani dulu. Mengizinkan ingatan kembali mengarungi hari usang yang telah berlalu, sama dengan merasakan kembali perasaan dan sakit yang sama.

Sulit bagiku mengingat kenangan manis yang pernah aku buat dengan seseorang yang sampai saat ini akan tetap aku panggil Mama. Selain, tentunya, hanya kisah pahit. Bahkan, bisa dibilang buruk yang membekas kuat di ingatanku selama menjadi bagian dari mereka, Mama dan Kak Serein, yang tidak pernah gagal membuatku merasa hanya sosok asing yang tersesat dan tidak tahu harus ke mana mencari tempat berlindung.

Ada banyak alasan yang membuat aku enggan bertandang ke rumah Mama. Perasaan bahwa aku hanyalah seseorang yang tidak mereka harapkan–yang merusak kedamaian hidup Mama dan Kak Serein–sudah seperti alarm peringatan kalau aku tidak diterima di rumah itu. Sejak dulu, sejak Papa membawaku masuk dalam kehidupan keluarganya yang lain. Sejak aku berumur 4 tahun.

Selasa, 04 Juni 2019

Selalu Ada Cinta untuk Sosok Bernama Kenangan


Ingatannya tentangmu perlahan memudar, lalu mati

Alzheimer adalah kata yang sempat membuatmu terpaku dan merasakan duniamu membeku sesaat. Meski semula kamu sempat menduga dan mencari tahu melalui internet serta bantuan Ly, gadis semata wayangmu, tak urung sesuatu menohok perasaanmu yang terdalam. Aliran dingin seakan menyergapmu seiring gigil yang menghadirkan wajah tirusnya berkelebat di depan matamu.

Sesungguhnya, kamu sudah menyimpan kecurigaan dan tanya itu saat mendapati dia pergi ke swalayan di seberang jalan dengan memakai sandal yang berbeda, bahkan tanpa rasa malu memakai pakaian yang bukan seleranya sama sekali. Mamadukan dua motif yang berbeda dan mengganggu mata yang melihatnya. Sosok yang selalu perfek dalam hal berbusana sejak zaman kuliah dulu, melakukan kesalahan yang fatal.

Tidak hanya itu saja, dia kerap kali lupa menaruh sesuatu tidak pada tempatnya. Menyimpan ponsel di kulkas, memasukkan garam pada teh manis yang ia buat untukmu. Selalu mengulang cerita yang sama dalam setiap percakapan kalian dan mulai tidak fokus dengan apa yang ia lakukan. Belum lagi emosinya yang berubah secara drastis. Semuanya begitu mengejutkan. Semuanya menyesakkan dadamu. Kamu ingin sekali menolak untuk percaya. Kamu menghela napas. Kenangan tentangnya selalu saja melemparmu ke masa lalu, sekaligus mengempasmu pada kerinduan tanpa tepi.

Minggu, 19 Mei 2019

Aku, Senja, dan Banyak Cerita


Sosok dengan tatapan fajar pagi yang pernah melumpuhkan dan menghangatkan hatiku

Aku suka senja. Suka sekali. Bisa dibilang, aku tergila-gila dengan pemandangan sore hari itu, ketika mentari tenggelam di ufuk barat. Tatkala sisa cahaya mentari berbaur dengan gelap malam yang mulai datang. Menciptakan semburat jingga yang melukis langit dengan sempurna. Menatapnya, kerap kali membuat anganku berkelana entah ke mana. Bagiku, senja selalu mengingatkan aku pada banyak hal dan mengubah perasaanku menjadi melankolis.

Aku tidak mengerti, mengapa banyak sekali para perangkai kata dan pencinta diksi mengabadikan senja pada tulisan mereka. Apa karena senja begitu memesona? Apa karena senja begitu spesial dan membuat siapa pun terbawa perasaan karena kehadirannya? 

Apa pun itu, mereka punya alasan sendiri untuk menuangkannya dalam rangkaian kata maupun jalinan kalimat. Entah tentang pertemuan atau juga perpisahan. Ya, senja mampu menggambarkan suasana hati kita yang berlawanan. Tentang kebahagiaan dan kesedihan. Dua perasaan itu memiliki banyak makna dan kesan bagi yang mengalaminya.

Minggu, 07 April 2019

Pagi, Secangkir Kopi, Cokelat, dan Sepotong Kenangan


Sesederhana aku mencintai kehilanganmu

Bagaimana caramu menjaga kenangan agar tetap abadi di ingatanmu? Apakah dengan mengunjungi tempat-tempat khusus yang kerap kamu datangi? Apakah dengan mendengarkan musik? Mendengarkan sebuah lagu yang mengingatkanmu pada seseorang atau pada momen-momen tertentu yang menyentuh hatimu? Apakah karena kecintaanmu pada fajar pagi, langit biru, semburat senja, atau gelap malam bertabur bintang?

Mungkin juga karena sesuatu yang menyelusup masuk ke penciumanmu? Seperti aroma tanah basah, makanan kesukaan, aroma cake, atau muffin yang biasa dibuat orang terkasih dalam hidupmu. Aku yakin, setiap orang punya cara sendiri menjaga kenangan itu agar tetap hidup dalam ingatannya, sekalipun lipatan waktu berusaha menyembunyikannya.

Jumat, 05 April 2019

Selalu Ada Rindu yang Menyengat (IDN Times)

IDN Times

Berpura-pura tidak mencintainya seperti hidup tanpa udara

Angin mempermainkan susunan rambut Bri sehingga menutupi pandangannya. Ia menyibak rambut sebahunya ke belakang. Sehelai daun kering yang jatuh di rambutnya ia tepis perlahan. Kemarau tahun ini memang lebih panjang dari biasanya. Kemarau panjang membuat daun-daun kering berserakan memenuhi halaman depan perpustakaan sampai pelataran parkir depan kampus.

Bri memutar langkahnya menuju taman di kantin belakang. Pandangannya tertuju pada satu arah, sudut kantin tempat ia biasa melihat sosoknya. Benar saja, dia sudah ada di sana, asyik mengaduk minumannya dengan sendok plastik. Tangan kanannya segera melambai begitu melihat Bri.

Selasa, 02 April 2019

Rasa yang Tidak Pernah Sampai ke Hatinya (IDN Times)

IDN Times

Yang sempurna menurut mata kita, tidak harus kita miliki

Menjelang pukul tujuh malam dia tiba dengan membawa plastik berlogo sebuah restoran cepat saji ternama. Hal yang kerap dia lakukan bila kami lembur untuk menyelesaikan laporan penerimaan dan stok barang. Saat menjelang akhir tahun, biasanya perusahaan tempatku bekerja selalu melakukan stock opname. Tempat kerjaku ini punya ritme kerja yang tidak tentu. Menjelang order baru turun ke produksi, kesibukanku kerap menguras waktu dan pikiran. Terutama saat datang barang.

"Makan dulu, biar aku saja yang menyelesaikannya. Kamu perlu makan untuk mengembalikan staminamu," ujarnya sembari mengambil alih tumpukan laporan stok barang di hadapanku.

"Kamu sendiri?" Aku menatapnya sekilas dan segera memalingkan wajahku dengan cepat sebelum ia melihat wajahku yang selalu memerah bila ada di dekatnya.

Jumat, 08 Maret 2019

Setelah Aku Berhenti Mencintai Dia (IDN Times)

IDN Times

Aku terjebak di antara dua bersaudara yang bermasalah

"Leon!"

Aku mencoba tidak peduli. Pura-pura tidak mendengar seruannya yang emosional dan histeris. Langkahku semakin panjang, semakin kupercepat, tapi dia tidak menyerah. Ya, karena itulah dulu aku mengaguminya, lalu berubah jadi suka, kemudian sayang. Aku mendengar langkah kakinya semakin mendekat, seperti berlari disertai napas memburu dan "plaakk!", tangannya mendarat di pipiku begitu tubuhku berbalik karena cengkeraman jemarinya di bahuku.

Aku terkesiap, ternganga dengan mata membeliak. Jejak panas yang dia tinggalkan di pipiku adalah gambaran dari perasaannya saat ini.

"Kamu ...." Napasnya masih terengah karena berlari mengejarku dan juga amarah.

Kucoba bersikap tenang, kumulai dengan mengambil napas panjang lalu membuangnya perlahan. Harus berapa kali aku katakan bahwa au tidak bisa melanjutkan hubungan kami. Seharusnya dia berusaha menerimanya. Cinta, bila sepihak, apa layak untuk dipertahankan? Lagi pula, perasaan yang kumiliki pun telah berubah.

"Apa lagi?" tanyaku, enggan. Lelah bila harus membahas sesuatu yang sudah tidak perlu dibahas lagi.

"Siapa Benaya?"

Hah! Aku nyaris tersedak. Mendengar namanya saja bulu kudukku serasa berdiri.

Selasa, 05 Maret 2019

Selalu Ada Orang Ketiga (IDN Times)

IDN Times

Keinginan serakah yang tidak tahu malu, memilikimu seutuhnya

Maika terperenyak, menahan napas, menatap nanar buku bersampul kulit cokelat di tangannya. Mengapa tidak dari dulu ia menyadarinya? Lagi pula, mengapa ia begitu tergoda membuka buku yang bukan miliknya? Kelancangan yang berbuah penyesalan karena saat ia menyadari, begitu banyak luka yang telah ia torehkan di hatinya.

Tahukah kamu, bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa dia tahu separah dan sedahsyat apa badai yang dia tinggalkan di hatimu? Kamu pasti tidak tahu karena kamu tidak pernah mengalaminya. Lelaki selalu datang dan pergi dalam kehidupanmu. Dengan mudah kamu mendapatkan dan menyerahkan hatimu pada lelaki yang sesuai dengan kriteriamu. Kamu memang tidak akan mengetahuinya, betapa tersiksanya mencintai orang yang setiap saat ada di dekatmu, bersamamu, sementara kamu tidak tahu sedalam apa perasaannya. Itulah aku, yang menyimpan cinta untukmu.

Kamis, 28 Februari 2019

Tidak Semua Cowok Berengsek, Kak (IDN Times)

IDN Times

Sesuatu terasa lepas dari jiwanya seiring nyeri yang menggigit di sudut hati

"Kamu masih marah, Mima?" Kristo bertanya lirih sementara matanya yang kerap membuat Jemima terpesona di awal perkenalan mereka menatap Jemima sendu.

"Apa perlu kamu menanyakan hal itu, Kris? Sampai kapan aku harus selalu mengerti dan memaafkanmu? Kamu selalu saja membuat aku kecewa dan marah. Jangan-jangan, kamu sengaja melakukan semua ini karena kamu sudah enggak sayang aku lagi. Benar, kamu enggak sayang aku lagi, Kris?" cecar Jemima dengan suara tertahan dan getir. Raut wajahnya terlihat emosional.

"Kamu kok punya pikiran jelek begitu sih, Mima? Enggak pernah terlintas di pikiranku berpaling darimu, apalagi menyakitimu. Kamu tahu, aku sangat mencintaimu."

Jumat, 15 Februari 2019

Maaf, Kali Ini Aku Gagal Menyelamatkanmu (IDN Times)

IDN Times

Sebuah erangan panjang merobek kesunyian malam itu

Suara deru mesin mobil itu seketika membuatmu bangkit dan terduduk kaku. Aliran darah di tubuhmu seketika menjadi lebih cepat dari biasanya. Ada degup kencang tak beraturan yang kamu rasakan di jantungmu. Dalam hening, kamu yakin siapa pun bisa mendengarnya. Entah sejak kapan–kamu tidak ingat atau berusaha tidak mengingatnya– perasaan itu kerap menyergapmu, menghadirkan gigil di sekujur tubuhmu. Selalu begitu.

Rasanya, hampir setiap hari dari hidupmu dipenuhi oleh kecemasan dan ketakutan. Perasaan tidak nyaman itu sudah kamu rasakan sejak kecil. Yang tersimpan kuat di memoriku adalah ketika kamu terkunci di kamar mandi. Oh, bukan, tapi kamu sengaja dikunci di kamar mandi entah karena apa. Tak seorang pun berani mengeluarkanmu bila tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu dan Ibumu.

Sabtu, 09 Februari 2019

Menjaga Hati (IDN Times)

IDN Times

Saat ini, begitu sulitkah menjaga hati?

Maura selalu berharap, di zaman modern ini ia akan bertemu dengan Mr. Rigt-nya. Apalagi setelah seminggu ini perasaannya dibuat kesal, kecewa, dan marah karena jalinan cinta yang telah ia rajut bersama Darius dengan benang kasih sayang akhirnya putus juga.

Jika bukan karena pengakuan Darius sendiri, Maura tidak akan pernah tahu ia telah diselingkuhi cowok berengsek itu. Selama satu tahun Maura selalu percaya dan bangga dengan kesetiaan Darius. Ternyata, Darius tidak beda dengan cowok urban masa kini yang menjadikan perselingkuhan sebagai hal biasa! Mungkin juga gaya hidup?!

Yang membuat Maura tambah keki–menurut pengakuan Darius–cewek yang menjadi selingkuhan Darius lebih cantik dan lebih tinggi darinya. Tapi, tetap saja yang namanya mengambil apa yang bukan miliknya adalah masalah besar karena membuat sakit hati orang yang dikhianati. Meskipun begitu, Maura tidak mau membiarkan dirinya tenggelam karena lubang di hatinya. Ambil hikmahnya saja, begitu selalu nasihat yang ia dengar. Bukankah dari situ ia tahu seberapa dalam cinta Darius padanya? Ternyata, sangat dangkal.

Senin, 07 Agustus 2017

Teman Seperjalanan (Gogirl! 15 Juli 2017)

Gogirl Magz
Aku yang paling terkejut saat Papa bercerita tentang abangku. Anak Papa dari wanita lain. Sementara Mama tampak tenang duduk di samping Papa. Kurasa Mama sudah tahu lebih dulu. Sulit kubayangkan, apa reaksi Mama mengetahui masa lalu Papa. Yang pasti, aku tidak bisa menerima berita mengejutkan ini. Untuk beberapa saat, yang kami lakukan adalah membiarkan keheningan mengambil alih waktu.

"Papa memang pernah melakukan kesalahan.Tapi, selama ini, Papa selalu berusaha menjadi ayah yang baik untukmu. Melakukan yang terbaik untuk keluarga ini." Suara Papa memecah keheningan, berujar hati-hati.

"Sekarang, Papa ingin menjadi ayah yang baik untuk abangmu," lanjut Papa melihatku hanya diam. Mata Papa menatapku lekat, menghela napasnya sebelum berujar lagi.

"Selama ini Papa telah mengabaikannya. Tanpa Papa sadari." Suara Papa lirih. Mungkin menyesali perbuatannya di masa lalu.

Kamis, 15 Juni 2017

Minka dan Buah Atap (Kompas Klasika 27 November 2016)

Cernak ini dimuat di Kompas Klasika edisi 27 November 2016
"Gula putih, kayu manis, daun pandan dan daun jeruk. Sudah kamu catat?” ulang Ibu.

Minka mengangguk. Minka membaca kembali daftar belanja yang akan Ibu beli di Pasar Antri, Cimahi.

"Jangan lupa, pewarna makanan," tambah Ibu.

"Ibu mau buat apa?" Minka bertanya penasaran.

Ibu senang membuat makanan. Suka mencoba resep-resep baru. Minka selalu suka mencoba hasil masakan Ibu. Meskipun bentuknya tidak sesuai dengan gambar di buku resep atau internet.

Minggu, 30 April 2017

Sansevieria (Gogirl! 15 April 2017)

Cerpen ini dimuat di Gogirl!Magz.com edisi 15 April 2017
Vanya tidak pernah mengerti, apa rencana Tuhan? Merenggut Papa, lalu menghadirkan sosok lain dalam kehidupan mereka.

Tiga tahun sudah, Vanya tak pernah bisa sehari pun menepis kenangan tentang Papa dan kerinduannya yang tak pernah berhenti menghadirkan duka pada setiap helai bulu mata. Perasaan yang kerap membuatnya ciut.

Tak bisa ia pungkiri, bagaimana kepergian Papa telah mengubah hidupnya. Sampai kini, ia masih sulit menerima kenyataan itu. Setelah hari itu, semua tidak sama lagi. Seperti langit tersaput awan kelabu. Begitu sunyi dan muram. Mama yang memilih membenamkan hari-harinya dengan pekerjaan kantor. Mama yang berubah menjadi ibu yang hemat bicara. Sedang ia sendiri, masih belum bisa menerima kehilangan orang terkasih dalam hidupnya. Masih meratapi kesedihan dan menjaga luka di hatinya.

"Ketika kamu kehilangan orang yang kamu cintai, dia tidak benar-benar meninggalkanmu. Dia hanya pindah ke tempat khusus di hatimu."

"Aku tidak ingin Papa ada di hatiku, Ma. Aku menginginkan Papa ada di sini, bersama kita." Vanya menangkis kata-kata Mama dengan suara serak menahan tangis.

Senin, 13 Februari 2017

Si Mata Cokelat dan Siang Itu (Majalah Kawanku 23 November 2016)

Cerpen ini dimuat di Majalah Kawanku edisi 23 November 2016
Dari kerimbunan bugenvil ungu yang melindungiku, aku masih bisa melihatnya diam-diam. Mataku selalu enggan berkedip bila melihatnya. Ya, aku sangat merindukannya. Terlalu merindukannya. Jemima memang sosok terdekat dalam hidupku. Enam belas tahun menjadi bagian dari hari-harinya, sulit mengurai ikatan di antara kami.

Dulu, kami selalu berbagi bahu untuk bersandar di saat lelah dan bersedih. Aku dan Jemima tak akan pernah tahan bila tak saling berbicara. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk berbaikan bila kami bertengkar atau berselisih. Tidak ada yang memahami Jemima sebaik aku. Walaupun Jemima tidak mengatakan perasaannya padaku, aku selalu tahu. Apa pun suasana hatinya. Begitupun sebaliknya. Saat ini, betapa aku merindukan semua itu.

Seperti biasa, Jemima selalu larut dengan buku di hadapannya sehingga tidak menyadari kehadiranku. Mungkin juga jarak yang terurai di antara kami yang membuatnya. Ada yang lain dan baru kusadari sesaat tadi. Bukan komik yang ia baca, tapi novel. Hei, sejak kapan Mima suka Agatha Christie?! Novel favoritnya cuma Totto-chan karya Tetsuko Kuroyanagi. Karena itu pula dia ingin menjadi penulis cerita anak. Dadaku berdesir karenanya, seiring perasaan hangat yang membungkus hatiku. Dan, kubiarkan kenangan mengambil alih waktu; melemparku ke masa lalu.

--- alp ---

Kamis, 19 Mei 2016

Perempuan di Tempat Gelap (Taman Fiksi Edisi 12 / April 2016)

Taman Fiksi 

Seharusnya kulepas saja. Sejak awal, ia tidak menyembunyikan statusnya sebagai suami dengan dua anak. Bukankah itu sebuah alarm peringatan agar aku segera menyingkir dari kehidupannya? Namun, kubiarkan sel-sel di tubuhku kocar-kacir saat bersamanya. Aku tidak mampu mengendalikan perasaanku untuk berhenti dan berharap menjadi perempuan yang menarik untuknya. Keinginan liar yang seharusnya tidak kubiarkan tumbuh dan berakar kuat di hatiku.

Dua gelas lemon tea tersaji di depan kami. Dia terlihat begitu tenang, duduk tepat di hadapanku. Matanya teduh dengan sepasang alis tebal yang tumbuh berjauhan; pertanda bahwa jodohnya orang jauh; bukan dengan kerabat dekatnya, batinku sibuk menyesalkan keputusannya menerima saja dijodohkan. Mungkin dia akan lebih bahagia dan tak akan mengalami situasi seperti saat ini. Melakukan pertemuan diam-diam di belakang lelaki yang punya peran besar dalam kehidupan kami. Seakan ada dorongan kuat yang membuatku menatapnya dengan berani untuk kemudian sibuk menilai dan membandingkan dirinya denganku.

Minggu, 24 Januari 2016

Di antara Rinai Gerimis (Harian Analisa 3 Januari 2016)

Cerpen ini dimuat di Harian Analisa edisi 3 Januari 2016
Jajaran cemara di samping panti asuhan itu masih berdiri kukuh. Agatha tidak tahu, apakah cemara-cemara itu masih cemara yang sama atau sudah ganti yang baru? Dulu, ia selalu memandang jajaran cemara itu dari jendela kamarnya atau dari aula panti bersama seorang bocah bermata coklat dengan sorot mata teduh. Entah mengapa, sejak awal ia masuk panti ini, ia lebih suka memanggilnya El. Nama sebenarnya Yoel.  

Menurut cerita Bunda Beth, El sudah tinggal di panti ini sejak bayi. Orang tuanya meninggalkan dia di depan panti. Saat Bunda Beth menemukannnya, umur El baru satu minggu; dari secarik data yang diselipkan di pakaian El. Tragis memang! Mungkin karena itu pulalah El tumbuh menjadi anak yang pendiam dan tertutup. Mungkin El merasa tidak pernah diharapkan atau dicintai orang tuanya.

Meski samar, Agatha pun masih ingat, kapan ia masuk panti asuhan ini. Ketika itu usianya masih enam tahun. Kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat menuju ke Medan. Malangnya, karena tidak ada pihak keluarga yang bisa dihubungi, ia diserahkan pada panti asuhan. Itulah awal perkenalannya dengan El. 

Semula Agatha tidak terlalu mengenal El karena El jarang berkumpul bersama teman-teman panti lainnya. Ia hanya bertemu El saat sarapan pagi, makan siang dan makan malam saja. Dan, Agatha tidak akan mengenal El lebih dekat lagi seandainya mereka tidak menyukai hal yang sama: memandangi miliaran jarum langit saat gerimis turun. Saat itu, saat-saat memandang gerimislah saat-saat yang indah dan menyenangkan buatnya dan El.