Tampilkan postingan dengan label Challenge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Challenge. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Juni 2019

Selalu Ada Maaf untuk Cinta yang Tidak Pernah Salah (IDN Times)

IDN Times

Cinta memiliki jalannya sendiri untuk bahagia

Entah apa yang membuatku tergerak dan melunakkan hatiku yang selama ini keras untuk kembali ke rumah. Kembali ke masa lalu dan memutar kembali roda kenangan yang pernah aku jalani dulu. Mengizinkan ingatan kembali mengarungi hari usang yang telah berlalu, sama dengan merasakan kembali perasaan dan sakit yang sama.

Sulit bagiku mengingat kenangan manis yang pernah aku buat dengan seseorang yang sampai saat ini akan tetap aku panggil Mama. Selain, tentunya, hanya kisah pahit. Bahkan, bisa dibilang buruk yang membekas kuat di ingatanku selama menjadi bagian dari mereka, Mama dan Kak Serein, yang tidak pernah gagal membuatku merasa hanya sosok asing yang tersesat dan tidak tahu harus ke mana mencari tempat berlindung.

Ada banyak alasan yang membuat aku enggan bertandang ke rumah Mama. Perasaan bahwa aku hanyalah seseorang yang tidak mereka harapkan–yang merusak kedamaian hidup Mama dan Kak Serein–sudah seperti alarm peringatan kalau aku tidak diterima di rumah itu. Sejak dulu, sejak Papa membawaku masuk dalam kehidupan keluarganya yang lain. Sejak aku berumur 4 tahun.

Rabu, 19 Juni 2019

More Than Words - Stephanie Zen (Resensi Buku - Penakata)



If God wants it to be, it will be. If not thats’s not what you need (hlm. 88)


Judul Buku: More Than Words
Pengarang: Stephanie Zen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Metropop
Tebal: 228 halaman
Tahun Terbit: Maret 2015
ISBN: 978-602-03-1355-9

Blurb


Marvel Wongso punya segalanya. Muda, cerdas, anak orang kaya.

Rania Stella Handoyo kebalikan dari semua itu. Murid beasiswa, sederhana, berusaha bertahan hidup di Singapura dengan tiap lembar dolar yang dimilikinya
.
Mereka menyimpan rasa untuk satu sama lain, tetapi tidak berani mengungkapkannya. Ketika berhasil terucap pun, yang satu selalu menganggap yang lainnya tidak bersungguh-sungguh.

Dikejar keterbatasan waktu, mampukan Marvel dan Rania memaknai cinta itu lebih dari sekadar kata-kata?

Rabu, 10 Desember 2014

Setia Memeluk Kenangan (Situs Hutanta)

Sampai kapan pun, aku tidak bisa membencinya. Perasaan yang kumiliki tentang dia begitu kuat. Dia bisa saja menjadi bagian masa lalu dari hidupku. Tapi, aku tidak pernah membiarkannya terjadi. Mencintainya adalah kesalahan terindah yang tidak harus kusimpan bersama lipatan waktu.

Mungkin, di matanya aku adalah wanita dengan karakter rumit. Kuakui, aku adalah wanita yang sangat sulit menerima kebaikan dan perhatian orang lain. Aku selalu curiga bila orang bersikap baik dan ramah padaku. Menurutnya, aku terlalu tertutup dan mandiri. 

"Aku tidak pernah bisa memahamimu," ujarnya dengan kepala menggeleng. Saat itu kami usai menonton sebuah film romantis. Tujuan awalnya mencari majalah yang memuat tulisanku. Tiba-tiba saja, setengah memaksa aku membujuk dia untuk menemaniku menonton. Keberanian yang kudapat setelah mengenalnya cukup lama dan kami mulai dekat.

"Dari luar kamu terlihat angkuh dan kuat. Kenyataannya, kamu mudah sekali tersentuh oleh hal-hal kecil yang buat orang lain biasa saja," lanjutnya dengan seringai menggoda, ketika melihatku berkali-kali menyeka air mata selama menonton.