Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Juli 2017

Perjalanan "Teman Seperjalanan"

"Teman Seperjalanan" adalah cerpen yang saya tulis empat tahun silam. Cerpen ini mendekam lama dalam penyimpanan cloud saya. Akhir tahun kemarin pernah saya edit sedikit karena ingin saya kirim ke majalah Kawanku. Sayang, belum sempat terlaksana sudah keburu berhenti (cetak).

Akhir Maret sampai awal April saya kirim ke majalah remaja lain. Sampai lima kali saya kirim, dijegal terus sama si Emon. Akhirnya, saya kirim deh ke Gogirl (kebetulan juga bulan itu "Sansevieria" dimuat di sana) setelah nama belakang karakter cowoknya saya ganti dengan nama seorang remaja yang video "Hip Hip Hura"-nya sedang viral di YouTube.

Sesuatu yang selalu saya harapkan bila akhirnya Teman Seperjalanan berhasil menembus redaksi Gogirl. Cerpen kedua saya di sana sepanjang tahun ini. Rasanya seneng banget karena sepanjang tahun ini waktu senggang saya tersita untuk nonton drakor (ups!😭😂). Alhasil, kegiatan menulis terabaikan.

Oya, penampakan cerita sesuai dengan aslinya. Bahkan, sampai tanda hubung pun tidak berubah (kayaknya Gogirl hanya meloloskan yang siap tayang deh).

Selamat membaca tulisan saya. Semoga bisa menginspirasi bagi banyak orang. Selamat berkarya juga. Yang mau baca, boleh klik ini atau ini.

Senin, 24 April 2017

Sansevieria dan Cerita yang Menginspirasinya

Sansevieria, mungkin merupakan sebuah tantangan buat saya. Cerpen ini lahir karena ada cerita yang menginspirasinya. Ya, saya ingin sekali bisa menulis fiksi tentang cinta dan keluarga, dalam hal ini tentang kedekatan seorang anak dengan ayahnya. Tema yang biasa dan sederhana, ‘kan? Namun, saya memasukkan media lain yang membuat hubungan mereka menjadi istimewa, yaitu tumbuhan. Keinginan itu timbul karena beberapa cerpen Mbak Utami Panca Dewi sukses menarik perhatian saya. Mbak yang sukses menjuarai beberapa lomba menulis ini memasukkan pohon Timoho, kelapa, jambu Dersono serta mangga Gedong dalam cerita-ceritanya (kayaknya Mbak Utami punya perkebunan deh 😜😍). Namun, pengetahuan saya mengenai tanaman benar-benar minim. Di rumah cuma ada tanaman hias dan mayoritas berdaun hijau (tak ada jenis bunga-bungaan sama sekali!). Apalagi pohon-pohon yang besar.

Dari sekian tumbuhan itu, lidah mertua-lah yang paling banyak saya tanam. Ada beberapa jenis dan bentuk. Dan, lidah mertua inilah yang menguasai setiap sudut ruang. Kecintaan saya pada tanaman hias ini semakin besar karena tanaman ini selalu ada dalam setiap drama Korea yang saya tonton (saya tergila-gila dengan drakor 😉😋).

Dari halaman depan rumah, teras depan, ruang tamu, ruang tengah, dapur, kamar mandi bawah, tangga menuju ruang atas (zona asap rokok), ada tanaman ini. Dari situ, muncullah ide untuk membuat cerpen remaja tentang lidah mertua. Cukup lama juga sih proses mencari ide ceritanya serta akan saya tulis seperti apa. Poin-poin cerita sudah ada dan sudah saya tulis di buku, tapi tidak langsung saya kerjakan. Satu hal lagi semakin meyakinkan saya, apa yang kita sukai dan kuasai memudahkan kita menuangkannya dalam bentuk tulisan. Seperti sansevieria ini! Saat cerpen ini selesai, segera saya kirim ke media (karena berbagai hal, cerpen ini butuh waktu setengah bulan untuk bisa menjadi cerita utuh) yang sudah saya bidik. Hampir setahun berselang, tak ada kabar sama sekali. Padahal, saking pedenya, cerpen ini sudah saya simpan di draf blog.

Akhir Januari 2017, saya melihat cerpen Pretty Angelia Wuisan di Gogirl!. Wah, saking kudetnya, saya baru tahu kalau Gogirl! sudah menjadi majalah online. Dengan rasa ingin tahu, saya langsung mengunjungi situsnya dan membaca cerpen-cerpennya. Dan, langsung semangat ingin meninggalkan jejak tulisan di sana. Saya ingat Sansevieria yang tak berkabar. Langsung buka surel, unggah ke laptop, cek lagi, nama Naomi saya ganti menjadi Nomi, mengganti beberapa huruf kecil menjadi huruf besar (untuk sapaan) dan mengikuti semua persyaratan di Gogirl!, lalu kirim. Setelah menanti dua bulan, cerpen ini akhirnya menemukan rumahnya juga.😊 Dengan tampilan sesuai aslinya.

Tidak seperti majalah remaja lain, Gogirl! meminta kontributornya untuk menandatangi surat HAKI dan peesyaratan lainnya. Untuk pemula seperti saya, rada ribet juga. Maka, dengan subjek: genting dan penting, saya segera menghubungi Mas Bambang Irwanto. Leganya, dengan cepat saya menerima balasan berisi tahapan yang harus saya lakukan (Terima kasih, Mas. Sukses untuk cernak-cernak dan kelas menulisnya!🙏). Semua itu memudahkan saya.

Tertarik mengirim tulisan ke Gogirl!? Kunjungi situsnya! Semua persyaratannya ada di sana. 

Selamat membaca tulisan saya! Semoga bisa menginspirasi juga! Dan, selamat menulis! (@analydiap07)

Sabtu, 04 Februari 2017

Tentang "Si Mata Cokelat dan Siang Itu"

Bulan Desember kemarin, saya baca di media sosial bahwa satu lagi majalah remaja harus menghentikan penerbitannya dalam bentuk cetak. Yang bikin saya agak kecewa, majalah itu ternyata Kawanku. Pasalnya, tanggal 30 Oktober tahun lalu, saya mengirim satu cerpen saya ke sana. Batin saya, waduh, belum sempat meninggalkan jejak tulisan di sana kok keburu tewas. Saat itu, saya berharap tulisan saya bisa dimuat, tapi juga pasrah karena tanggal 21 Desember 2016 adalah edisi terakhirnya. Setelah tanggal tersebut berlalu dan tak ada konfirmasi tulisan saya akan dimuat, ya sudahlah, saya tidak memikirkannya lagi.

Tanggal 4 Januari 2017, sebuah surel saya terima. Begitu tahu dari Kawanku, saya langsung teriak senang. Ternyata cerpen saya dimuat di sana. Kawanku meminta kelengkapan data untuk pengiriman honor. Ada enam alamat surel yang berbeda. Saya di urutan kelima. Kemungkinan–tebakan saya, lho–cerpen saya dimuat di edisi terakhir (edisi 26). Ternyata, saya salah (untung ada Mbak Triani Retno yang bisa saya tanyai, terima kasih, Mbak!). Rasanya, seneeeeeeng banget! Harapan saya untuk memenuhi sidebar blog dengan sampul majalah yang memuat tulisan saya terpenuhi (soalnya, saya enggak punya buku yang bisa dipajang, hiks #abaikan). Saya sudah berusaha mencari majalahnya ke Gramedia. Sayang, tidak berhasil. Sampai sekarang tidak tahu dimuat di edisi mana.

Selasa, 03 Januari 2017

Cerita di Balik "Minka dan Buah Atap"

Ide cerita ini melintas begitu saja di kepala saya. Mungkin juga karena sebuah kebiasaan. Ya, kebiasaan membuat manisan buah atap ini selalu saya lakukan dua kali dalam sebulan. Karena itu, jalan ceritanya sudah menempel di kepala saya. Hanya tinggal saya wujudkan dalam bentuk tulisan saja. (Senangnya kalau ide datang tak diundang seperti ini)☺

Berhubung Mama saya sudah memasuki masa lansia, akhir-akhir ini sering mengeluh karena merasakan ngilu dan sakit pada tulang dan sendinya. Seorang teman Mama di komunitas lansia menyarankan Mama saya untuk mengonsumsi buah atap sebagai camilan (kudapan). Cukup lima belas buah sehari. Meskipun usia teman Mama saya sudah lewat 70 tahun, tetapi beliau tak pernah merasakan dan mengeluhkan tulang serta sendinya. Masih kuat melakukan perjalanan jauh dan melakukan aktivitasnya sehari-hari. Sedangkan Mama saya sudah mulai menggunakan tongkat agar bisa membantu aktivitasnya sehari-hari. Terutama pada momen-momen tertentu atau acara khusus yang mengharuskan Mama saya hadir (Mama saya anak tertua).

Jumat, 22 April 2016

Catatan Kecil "Perempuan di Tempat Gelap"

"Perempuan di tempat Gelap"  (Taman Fiksi edisi 12 ~ April 2016) adalah cerpen yang saya tulis dua tahun silam. Saat saya membuka folder lama, saya tertarik dengan cerpen ini. Saya baca, saya koreksi lagi takut ada typo atau penulisan kata yang tidak sesuai KBBI dan EYD (untuk dua hal ini saya masih terus belajar). Yang pasti, saya selalu berusaha untuk meminimalkan kesalahan.

Sebenarnya, judul awal cerpen ini bukan "Perempuan di Tempat Gelap". Akhirnya, judul itu saya simpan untuk cerpen yang akan saya tulis, nanti. Maka, saya putuskan untuk mengirimnya ke Taman Fiksi karena media ini menerima semua jenis tulisan. Alasan lainnya juga karena saya ingin meninggalkan jejak tulisan di sana.

Awal Februari saya kirim, awal April sudah terpampang di sana. Setiap kali melihat tulisan saya dimuat di media mana pun– sejujurnya–saya tidak senang, tetapi seneng banget! :)

Untuk cerpen "Perempuan di Tempat Gelap", tidak ada perubahan judul, tanda baca dan susunan kalimatnya. Namun, ada beberapa kesalahan pada pemenggalan kata, yaitu:




- dukungan
- kenyamanan
- ajakan 
- keheningan
- melampiaska(n) ~> kurang n

Tertarik mengirim tulisan ke Taman Fiksi? Ayo, baca dan pelajari cerpen-cerpen yang layak muat di sana! Ada puluhan cerpen yang dimuat tiap bulannya di sana. Untuk yang sekadar suka membaca, cerpen-cerpen Taman Fiksi bisa menemani perjalanan dan mengisi waktu senggang kita di mana pun. Silakan meluncur ke sana dan tentunya harus melakukan registrasi dulu, ya? :) :)

Akhir kata, selamat membaca tulisan saya! Semoga berkenan dan menginspirasi. (@analydiap07)





Minggu, 24 Januari 2016

Catatan Kecil "Di antara Rinai Gerimis"

Mengapa saya tertarik mengirim tulisan saya ke harian Analisa? Pertama, saya salut dan sedikit “iri” melihat seorang Eva Riyanty Lubis (pemilik "Perfect Day" ini) hampir setiap minggu tulisannya ada di sana. Kedua, saya bisa memantau tulisan saya bila dimuat dari e-paper-nya. Ketiga, saya ingin meninggalkan jejak tulisan saya di sana. :) Sejujurnya, sebagai blogger pemula seperti saya adalah hal yang membahagiakan bisa membagi tulisan saya melalui blog. Sebagai dokumentasi juga, sih.

"Di antara Rinai Gerimis" adalah cerpen ketiga saya tentang gerimis yang dimuat di media (dua majalah remaja dan satu koran). Cerpen ini saya buat akhir Oktober 2013 dan saya kirim ke Analisa pertengahan tahun 2015. Sejak saya kirim ke Analisa, setiap Minggu pagi (begitu bangun tidur) saya selalu mengecek e-paper-nya. Namun, tak pernah ada penampakannya. :(

Pertengahan bulan Januari ini, saya iseng browsing, mungkin ada tulisan saya yang dimuat tanpa pemberitahuan karena ada penambahan sejumlah uang di rekening saya saat saya melakukan penarikan di ATM untuk membeli buku (akhir tahun di Gramedia selalu ada diskon besar-besar). Ternyata, awal tahun ada cerpen saya yang dimuat di harian Analisa. Senang dong? Selalu! Saya cek melalui internet banking. Uang yang masuk pada akhir November. Jadi, .... Sampai sekarang saya belum tahu uang itu dari mana. Melihat jumlahnya sih, kemungkinan cerita anak.

Tidak ada yang sempurna. Begitu pula dengan cerpen saya ini. Seperti biasa, ada beberapa kata yang mengalami pengeditan, yaitu:

1. orang tua  ~>  orangtua

Penulisan kata majemuk atau gabungan kata yang seharusnya dipisah oleh editornya digabung (ada yang bisa bantu, penulisan yang benar karena selalu saya cek kembali di KBBI dan EYD dipisah kok?!).


2. tidak ~> tak

3. sejak lepas ~> selepas

4. milyaran ~> miliaran (terima kasih karena sudah memperbaiki kesalahan saya)

5. Untuk judul, tanda baca dan susunan kalimat tidak mengalami perubahan. Dan, tidak ada satu kata pun yang dibuang (max 6000 karakter, tapi cerpen saya lebih dari 10.000 karakter :D).

Dalam urusan mengurangi jumlah karakter dari tulisan yang sudah jadi adalah hal yang lumayan sulit buat saya. Seperti juga "Orang Ketiga" dan "Andai Nat Tahu", dua cerpen itu tidak sesuai persyaratan medianya, namun saya berterima kasih dan bersyukur karena sang editor tidak memasukkannya ke tong sampah serta tidak mengalami pemangkasan sedikit pun (berimbas pada space untuk ilustrasi).

Sekali lagi, tidak ada yang sempurna. Tapi, saya senang memperbaiki kesalahan yang saya lakukan dan belajar dari kesalahan itu. Sesungguhnya, buat saya, bahasa Indonesia yang baik dan benar itu bikin saya tekanan batin dan frustrasi. 

Selamat membaca! Terima kasih untuk Eva Riyanty Lubis yang sudah mau berbagi.

Minggu, 21 Juni 2015

Catatan Kecil "Omelan yang Manis"

Sejujurnya–buat saya yang baru belajar–menulis cerita anak tidak mudah. Karena saya sudah terbiasa  dengan cerpen remaja, alhasil, tidak cukup sekali saya harus mengedit cernak saya. Terutama untuk pemilihan kata yang sederhana dan bisa dimengerti anak-anak. Pemenggalan kalimat yang terlalu panjang pun saya lakukan. Saya juga berusaha untuk tidak boros dalam menggunakan kata ganti seperti "nya".

Omelan yang Manis adalah cernak kedua saya yang dimuat di media. Ceritanya umum dan sederhana sekali. Yang berhasil saya catat dari tulisan saya kali ini adalah: tak ada satu kata pun yang dibuang. Cuma, ada satu baris kalimat yang ditambah oleh editornya untuk melengkapi kalimat saya yang belum selesai. Sayangnya, penambahan kalimat itu rancu (mungkin juga editornya salah ketik). Selain itu, ada beberapa alinea yang diubah. Cernak yang saya pos di sini adalah cernak yang saya kirim. Untuk perbandingan, bisa baca di sini.

Harapan saya, ke depannya, bisa menulis cernak lebih baik lagi dan bisa lebih produktif. Amin. (@analydiap07)

Rabu, 29 April 2015

Tentang "Sebuah Rumah untuk Livi"

Berawal dari tweet sorang pemilik "Triangular Labyrinth" (terima kasih Kakak Loomie), saya tahu bahwa cerpen saya dimuat di Gadis. Antara senang dan surprise karena "Sebuah Rumah untuk Livi" baru saya kirim bulan Februari lalu dan awal bulan April sudah tercetak manis di Gadis.

Sejak awal, "Sebuah Rumah untuk Livi" saya tulis khusus untuk Gadis. Mungkin karena saya tulis pakai hati dan perasaan (lebay), makanya cerita itu mengalir dengan lancar. Dan, perjuangan untuk memperoleh bukti terbitnya benar-benar menguras waktu dan tenaga. Hari Sabtu saya berburu majalah Gadis. Dua lapak di Pasar Antri, Yogya Kepatihan, TB Tisera, Cikapundung sampai Alun-Alun Timur semuanya saya datangi dan hasilnya nihil. Semuanya habis. Waduh, saya sempat frustrasi. Jadi ingat pengalaman pertama saya waktu "Orang Ketiga" dimuat di Hai. Saya tidak mau hal itu terulang lagi.