Tampilkan postingan dengan label Review Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 November 2017

Ocean Waves (Review Film)

Ocean Waves adalah film animasi televisi yang diadaptasai dari novel karya Saeko Himuro. Film tahun 1993 dari Studio Ghibli ini disutradarai oleh Tomomi Mochizuki. Sebuah film animasi yang mengangkat tema tentang kisah cinta remaja (SMA), kisah cinta segitiga antara dua orang sahabat, Taku Morisaki dan Yutaka Matsuno kepada Rikako Muto.

Cerita berawal saat Taku Morisaki melihat seorang gadis yang tidak asing baginya di stasiun kereta, Tokyo. Maka, dalam pesawat menuju kampung halamannya, Kōchi, kenangan akan gadis itu membawa angan Taku kembali ke masa dua tahun lalu. Saat libur musin panas yang mengawali pertemuannya dengan seorang gadis pindahan dari Tokyo.

Taku Morisaki dan Yutaka Matsuno, meskipun tidak pernah sekelas, bersekolah di sebuah SMA yang sama di Kōchi. Kedekatan mereka berawal saat mereka melakukan protes tentang pembatalan darmawisata ke Kyoto. Semester baru itu, kelas Yutaka kedatangan Rikako Muto, seorang murid baru pindahan dari Tokyo. Sejak awal, Yutaka sudah menunjukkan ketertarikannya pada Rikako. Sebagai ketua kelas, Yutaka mengantar gadis itu berkeliling sekolah, menemaninya ke toko buku, membesuknya saat sakit serta pergi menonton berdua.

Sabtu, 30 September 2017

Porco Rosso (Review Film)

Berlatar belakang Laut Mediterania pada zaman pesawat amfibi menguasai lautan, Hayao Miyazaki memulai kisahnya. Kali ini tentang petualangan seekor babi yang gagah berani. Seekor babi bernama Porco Rosso yang beralih profesi dari seorang pilot Perang Dunia Pertama, berubah wujud menjadi seekor babi pemburu bayaran karena suatu kejadian misterius yang dialaminya.

Kala itu, gerombolan perompak angkasa menguasai Lautan Adriatik. Mereka merampok harta benda para penumpang kapal. Salah satu gerombolan perompak angkasa yang ditakuti adalah gerombolan perompak Mamma Aiuto. Suatu hari, Porco Rosso disewa untuk melawan perompak itu. Perompak Mamma Aiuto berhasil mengambil uang gaji para buruh tambang serta menyandera lima belas orang anak sekolah yang sedang melakukan tur. Porco Rosso berhasil mengalahkan gerombolan perompak itu dan membuat pesawat mereka mengalami kerusakan.

Hal itu memicu para perompak angkasa bergabung dalam sebuah Federasi Perompak untuk melawan Porco Rosso. Mereka menyewa Donald Curtis, pilot andal Amerika keturunan Italia. Bersama Curtis, gabungan perompak angkasa berhasil menyerang sebuah kapal besar dan mengalahkan dua orang pilot pesawat tempur terlatihnya serta menguasai harta benda di kapal itu. Mereka juga menantang Porco Rosso untuk menangkap mereka.

Selasa, 25 Juli 2017

Only Yesterday (Review Film)

Taeko Okajima (27 tahun) sejak kecil hingga dewasa tinggal di Tokyo dan bekerja pada sebuah perusahaan swasta. Untuk yang kedua kalinya, ia berencana menghabiskan liburannya di sebuah desa di Yamagata. Karena itu, Taeko mengambil cuti sepuluh hari. Taeko berencana memetik bunga safflower bersama keluarga yang ia datangi.

Sejak kecil, Taeko ingin sekali berlibur di luar kota seperti teman-teman sekolahnya yang lain. Sayang, ia tidak punya kerabat yang tinggal di desa. Di desa itu pula ia mengenal Toshio, seorang pemuda yang memilih berhenti sebagai pekerja kantor dan menjadi petani organik. Mereka kerap melewatkan waktu bersama dan menjadi dekat. Toshio yang lebih muda membuat Taeko merasa nyaman menceritakan masa kecilnya. Bahkan, nenek Toshio berharap Taeko mau tinggal di desa dan menikah dengan Toshio.

Selama perjalanan dalam kereta itulah ingatan Taeko terlempar kembali ke masa lalu. Kenangan akan masa kecilnya, saat ia berumur sepuluh tahun dan duduk di kelas lima. Kenangan masa kecil yang membekas dalam di ingatan Taeko. Kenangan tentang liburan Taeko di pemandian yang berakhir dengan tak sadarkan diri. Kesan pertama saat keluarga Okajima makan buah nanas. Kehebohan anak perempuan saat suster di sekolah menerangkan tentang menstruasi sehingga mereka beramai-ramai membeli celana dalam. Konyolnya, anak laki-laki yang mengetahui hal itu jadi usil dan berusaha menyingkap rok anak perempuan. Dan,  reaksi teman-teman Taeko saat Hirota–anak laki-laki dari kelas lain yang jago baseball–menyukai Taeko, mereka melarang Taeko menyemangati Hirota (ekspresi Hirota dan Taeko saat bertemu bikin saya senyum sendiri).

Senin, 10 Juli 2017

Whisper of the Heart (Review Film)

Kali ini, Whisper of the Heart (Mimi wo Sumaseba) cerita manga karya Aoi Hiiragi yang diadaptasi oleh Hayao Miyazaki dan diangkat menjadi film. Film yang disutradarai oleh Yoshufumi Kondō ini rilis pada 15 Juli 1995.

Whisper of the Heart mengangkat tema tentang kegigihan sepasang remaja dalam meraih impian masa depan mereka. Tentang minat, bakat, serta bagaimana usaha mereka untuk mewujudkannya.

Adalah Shizuku Tsukishima (14 tahun), seorang gadis remaja kutu buku yang lebih memilih mengisi waktunya di perpustakaan dengan membaca buku. Sejak ia mendapati nama Seiji Amasawa dalam setiap buku yang ia pinjam, Shizuku menjadi penasaran dan menduga-duga, seperti apa sosok bernama Seiji Amasawa itu. Bahkan, mencari tahu kepada guru senior di sekolahnya.

Suatu hari, Shizuku dan Yuko Harada, sahabatnya di sekolah, janji bertemu di sekolah untuk membahas lagu "Country Road" yang Shizuku terjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Lagu itu akan mereka nyanyikan dalam acara kelulusan sekolah. Karena mengejar Yuko yang salah tingkah saat melihat kedatangan Sugimura, teman sekelas yang diam-diam ia sukai, buku berisi lembar terjemahan lirik lagu itu jatuh dan tertinggal di taman sekolah. Saat kembali lagi untuk mengambilnya, Shizuku mendapati seorang laki-laki sebayanya yang tengah membaca terjemahannya. Cowok itu sempat membuat Shizuku kesal karena telah mengolok-olok terjemahan lagunya. Bahkan, saat mereka berpapasan di sekolah pun anak laki-laki itu bersikap seolah tak mengenalnya.

Senin, 24 April 2017

Princess Mononoke (Review Film)

Berawal dari amukan seekor Nago (dewa babi penjaga hutan) yang berubah menjadi monster, Ashitaka, bersama kijang tunggangannya harus meninggalkan desanya menuju daerah barat. Perjalan itu harus ia lakukan atas saran dukun setempat agar bisa memutus kutukan yang diberikan sang Nago. Sebab, saat bertempur melawan Nago, lengan kanan Ashitaka tersentuh oleh babi itu sehingga secara perlahan ia akan mati dengan daging yang membusuk.

Dalam perjalanannya, Ashitaka menolong dua orang pekerja pabrik besi yang jatuh ke sungai karena diserang oleh sekumpulan serigala di bawah pimpinan dewa Moro dan putrinya, San (dikenal dengan nama Princess Mononoke; seorang gadis liar yang mencuri jiwa para serigala).

Dengan bantuan Kodama (Roh Pohon), Ashitaka berhasil keluar dari hutan tersebut. Dua orang yang ia tolong itu adalah anak buah Nona Eboshi. Nona Eboshi inilah yang menyebabkan Nago murka dan membenci manusia sehingga berubah menjadi iblis.

Minggu, 12 Maret 2017

The Cat Returns (Review Film)

Menolong ternyata tak selalu mendatangkan kebaikan. Hal ini terjadi pada Haru Yoshioka. Berawal dari tindakan Haru menolong seekor kucing yang nyaris tertabrak truk. Berbagai kejadian yang tidak ia harapkan harus ia alami.

Dimulai dengan kedatangan rombongan Raja Kucing pada malam hari, mendapati halaman rumahnya penuh dengan tumbuhan rumput ekor kucing dalam waktu semalam, dibuntuti segerombolan kucing saat menuju sekolahnya, mendapati lokernya penuh dengan kado kecil berisi tikus. Semua itu ungkapan terima kasih Raja Kucing karena Haru telah menyelamatakan anaknya, Pangeran Lune, yang nyaris tertabarak truk. Bahkan, sang raja pun menjodohkan Haru dengan anaknya. Tentu saja rencana perjodohan itu membuat Haru bingung. Meskipun sudah menolak, sang raja bersikukuh.

Dalam kebingungan dan kepanikannya, Haru mendengar sebuah suara tanpa wujud yang menyuruhnya mendatangi Kantor Urusan Kucing. Sebagai penunjuk jalan, Haru disuruh mencari seekor kucing putih besar (Muta). Dengan bantuan Muta, Haru dibawa ke suatu tempat dalam dimensi yang berbeda dengan dunia manusia. Dunia untuk makhluk yang memiliki hati sehingga apa pun yang diciptakan manusia dengan segenap hati dan harapan akan memiliki jiwa (hidup) sehingga Baron (patung kucing) dan Toto (patung gagak hitam) yang Haru temui menjadi hidup. Mereka bersedia membantu Haru. Sayangnya, utusan raja menjemput paksa Haru dan membawanya ke kerajaan kucing. Untungnya, Muta berhasil mengikuti.

Selasa, 10 Januari 2017

Kiki's Delivery Service (Review Film)

Satu lagi karya sutradara Hayao Miyazaki yang diadaptasi dari novel Majo no Takkyubin karya Eiko Kadono. Film yang diproduksi oleh Studio Ghibli ini rilis pada Juli 1989. Sampai sekarang, film animasi yang diproduksi lebih dari dua puluh tahun lalu ini masih tetap dicari dan ditonton penikmat film (termasuk saya ☺).

Kiki’s Delivery Service bercerita tentang seorang gadis penyihir bernama Kiki yang begitu bersemangat saat memutuskan meninggalkan rumah dan orang tuanya–sebulan lebih cepat dari yang telah direncanakan–untuk belajar hidup mandiri.

Sudah menjadi tradisi sejak lama–dalam keluarga penyihir–saat seorang gadis menginjak usia 13 tahun, wajib meninggalkan rumah dan orang tuanya. Dia harus mencari tempat tinggal baru dan menetap di sana serta bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dengan menggunakan sapu terbang tua pemberian ibunya, Kiki memulai perjalanannya. Bersama dengan Jiji, seekor kucing hitam yang dapat berbicara, Kiki tiba di sebuah kota bernama Koriko. Dengan bantuan Osono–seorang pemilik toko roti Gutiokipan–dan suaminya, Kiki memutuskan untuk menetap di sana dan memulai kehidupan barunya. Karena keahlian Kiki hanya terbang, Kiki memutuskan untuk membuka jasa pengiriman (kurir).

Rabu, 07 Desember 2016

From Up on Poppy Hill (Review Film)

From Up on Poppy Hill–rilis pada Juli 2011–adalah satu dari sekian film animasi yang diprodusi oleh Studio Ghibli. Skenarionya ditulis oleh Hayao Miyazaki dan Keiko Niwa berdasarkan cerita komik Jepang Kokuriko-zaka Kara karya Tetsurō Sayama (cerita) dan Chizuro Takahashi (ilustrasi). Sementara yang bertanggung jawab sebagai sutradaranya adalah Gorō Miyazaki.

Berbeda dengan animasi Ghibli umumnya, From Up on Poppy Hill jauh dari hal-hal berbau mistis dan magis yang kerap berkutat di seputar dunia arwah, dewa dan penyihir. Ini tentang kisah cinta remaja yang manis selepas Perang Korea yang terganjal oleh masa lalu orang tua si tokoh utama. Ini film animasi romantis yang terjadi pada tahun 1960-an. Tentang Umi Matsuzaki dan Shun Kazama yang menjadi dekat dan saling menyukai sejak mereka bekerja sama dalam upaya menyelamatkan clubhouse (Latin Quarter) di sekolah mereka yang hendak dirobohkan karena bangunan itu sudah tua, kotor, dan tak terurus.

Umi Matsuzaki (seorang siswa SMA) tinggal di sebuah gedung tua bekas rumah sakit yang masih terawat dengan baik meskipun bangunan itu sudah berumur 60 tahun. Umi tinggal bersama neneknya, dua orang adiknya (Sora dan Riku) serta beberapa orang lainnya. Ada pula Tomoko seorang pembantu paruh waktu. Sementara ibunya, Ryoko, adalah seorang profesor dalam bidang kedokteran dan tengah melanjutkan studinya di Amerika. Sedangkan ayahnya, Yūichirō Sawamura, adalah seorang kapten kapal. Yūichirō meninggal tenggelam bersama kapalnya karena menyentuh ranjau saat Perang Korea berkecamuk. 

Untuk mengenang dan mengobati kerinduannya pada sang ayah–setiap pagi–Umi selalu melakukan ritual mengibarkan bendera. Kebiasaan yang Umi pelajari sejak kecil dari ayahnya untuk membantu para pelaut menuju jalan pulang. Kibaran bendera itu membuat Shun Kazama–siswa klub literatur–tergerak menciptakan puisi tentang Umi dan memuatnya di koran sekolah mereka.


Kedekatan Umi dan Shun berawal saat Sora meminta Umi menemaninya menemui Shun di klub literatur untuk meminta tanda tanganya. Pemimpin klub tersebut Shirō Mizunuma, meminta Umi membantu Shun memotong beberapa stensil. Dari situ, Umi juga memberi ide untuk membersihkan Latin Quarter dan membuatnya menjadi seperti baru.

Sayangnya, hubungan mereka tidak berjalan dengan baik. Ketika Shun dan Shirō diundang ke acara perpisahan Hakuto (seorang dokter) yang tinggal bersama keluarga Matsuzaki, Umi menunjukkan foto ayahnya bersama kedua temannya (Onodera dan Tachibana). Setelah itu, sikap Shun jadi berubah. Selalu menghindari Umi.


Selanjutnya ... penasaran, 'kan? Sebenarnya, apa yang membuat Shun berubah sikap? Berhasilkah mereka menyelamatkan Latin Quarter? Apa yang Umi, Shun dan Shirō lakukan agar Latin Quarter tidak dirobohkan? Rahasia masa lalu apa yang membuat Umi dan Shun tidak bisa bersama? Cerita berakhir dengan .... Tonton saja filmnya!

O ya, saya suka dengan ost pada saat menyambut kedatangan Tokumaru. Kalau yang di akhir cerita bikin sedih, tetapi syahdu. Ini sebagian dari liriknya:

Cinta kemarin adalah air mataku
Yang kering dan menghilang oleh waktu
Cinta esok hanyalah sebuah ulangan
Kata-kata tanpa akhirJika kita bertemu saat senja
Maukah kamu membopongku dengan tanganmu?

Anggota dari klub Astronomi dan Filsafat yang kocak bikin saya tertawa geli. Ah, yang pasti, apa pun ceritanya, saya selalu suka dengan animasi Studio Ghibli. Suka dengan gambarnya yang indah dan detail.☺

Selamat menonton! Selamat menikmati animasi Ghibli di–kali ini–dunia nyata!

Rabu, 30 November 2016

The Whole Truth (Review Film)

Keanu Reeves
Michael Lassiter (Gabriel Basso) adalah seorang remaja SMA berusia 17 tahun, anak dari pasangan Boone Lassiter (Jim Belushi)–seorang pengacara kaya-raya–dan Loretta (Renée Zellweger), dituduh membunuh ayahnya sendiri. Dengan bukti sidik jari yang tertinggal di pisau serta pengakuan yang keluar dari mulutnya sendiri, Mike dituduh melakukan pembunuhan tingkat pertama. Sebagai ibunya, Loretta meminta bantuan seorang pengacara, Richard Ramsay (Keanu Reeves), untuk membebaskan anaknya dari tuduhan tersebut. Dibantu seorang pengacara muda, Jannele Bradley (Gugu Mbatha-Raw), mereka bekerja sama untuk membebaskan Mike dari tuduhan pembunuhan itu.

Namun, selama persidangan berjalan, Mike tidak mau berbicara sepatah kata pun. Sementara hampir semua saksi yang dihadirkan memberikan kesaksian yang menyudutkan dirinya. Sikapnya ini menyulitkan Ramsay dalam melakukan pembelaan.

Selain pengacara yang kaya-raya, Boone Lassiter pun dikenal sebagai suami yang kerap bersikap kasar dan merendahkan istrinya. Ia juga bukan sosok ayah yang baik dan sangat keras pada anaknya. Kenyataan itu pula yang menguatkan dugaan mengapa Mike membunuh Boone

Keluarga Lassiter dan pengacara

Merasa dirinya tak akan terbebas dari tuduhan pembunuhan, Mike mengajukan dirinya sebagai saksi, bahkan sempat memecat Richard Ramsay sebagai pengacaranya. Sebuah kesaksian mengejutkanpun keluar dari mulut Mike.

Sebagian dari para saksi

Yang duduk berderet itu adalah juri
Dengan setting ruang persidangan (seperti juga 12 Angry Men) The Whole Truth memiliki alur yang lambat. Tak ada kejutan atau kejadian-kejadian yang menegangkan dalam film ini. Cerita mengalir dari pernyataan para saksi selama persidangan berlangsung. Tak seorang pun mengatakan yang sebenarnya. Semua punya alasan dan kepentingan sendiri.

Buat saya pribadi, tidak masalah dan tidak membuat saya bosan menonton film ini karena film ini mengingatkan saya pada novel Agatha Christie. Yang membuat saya kagum dan terkejut, ending-nya itu loh. Jauh dari prediksi saya. Saya kira si pembunuhnya .... Alasan itu pula yang membuat Mike tidak mau bicara. Sebuah kasus yang sederhana, tetapi tidak sesederhana itu pemecahannya. 

Penasaran? Tonton saja filmnya.😉


The Whole Truth (El Abogado del Mal) adalah sebuah film drama kriminal yang rilis pada Oktober 2016. Skenarionya ditulis oleh Nicholas Khazan dan penyutradaraannya dipercayakan kepada Courtney Hunt. Sebuah film yang menarik yang sangat sangat layak untuk ditonton. Jauh dari mengecewakan.💕💕💕

Selamat menonton! (@analydiap07)


Sabtu, 12 Maret 2016

Spirited Away (Review Film)

Sukses memboyong Oscar sebagai film animasi terbaik pertama yang meraih penghargaan dalam ajang bergengsi tersebut, membuat Spirited Away (Sen to Chihiro no Kamikakushi) menjadi film tersukses dalam sejarah perfilman Jepang. Bahkan, dua penghargaan lain pun berhasil diraihnya. Wajar bila Spirited Away masuk dalam jajaran film box office karena film ini meraup banyak penonton. Film animasi fantasi produksi studio Ghibli 2001 ini–seperti juga Ponyo, My Neighbor Totoro, dan Howl's Moving Castle–disutradarai oleh Hayao Miyazaki.

Spirited Away berkisah tentang petualangan Chihiro (10 tahun) yang tersesat dan terpaksa tinggal di dunia arwah untuk membebaskan orang tuanya yang berubah menjadi babi karena kelancangan mereka menyantap makanan para arwah.

Minggu, 24 Januari 2016

Howl's Moving Castle (Review Film)

Howl’s Moving Castle (Howl’s no Ugoku Shiro) adalah film fantasi animasi Studio Ghibli yang dirilis pada tahun 2004 dengan mengambil latar belakang masa peperangan. Film ini diadaptasi dari buku dengan judul yang sama, karya penulis Inggris, Diana Wynne Jones (buku ini telah dicetak dan diterbitkan oleh GPU pada tahun 2009). Sedangkan sutradaranya dipercayakan pada Hayao Miyazaki.

Karena beberapa alur pada buku ini ada yang diubah dan dihilangkan, alhasil antara buku dan film terdapat banyak perbedaan. Namun, ceritanya tetap berpusat pada petualangan Sophie saat ia dikutuk menjadi wanita tua. Seperti biasa, Studio Ghibli selalu memanjakan mata penontonnya dengan gambar yang indah, hidup, karakter-karakter tokohnya yang unik, serta balutan tema mistik dan magis yang kerap mewarnai film-filmnya.

Sophie (18 tahun) adalah gadis pembuat sekaligus pemilik toko topi peninggalan ayahnya. Dalam perjalanan menemui adiknya, Lettie, ia terlibat dalam perseteruan antara Howl dan Penyihir dari Pembuangan. Karena itu, Penyihir dari Pembuangan mengutuknya menjadi nenek-nenek. Malangnya, ia tidak boleh menceritakan kutukan yang menimpanya kepada siapa pun sehingga Sophie memutuskan untuk pergi dari rumahnya. Dari situlah petualangan Sophie dimulai.

Senin, 23 November 2015

My Neighbor Totoro (Review Film)

Agar bisa dekat ke rumah sakit tempat istrinya menjalani perawatan, Tatsuo Kusakabe (seorang ilmuwan) memboyong kedua anaknya (Satsuki dan Mei) tinggal di sebuah rumah tua di desa. Selama ini, rumah kosong itu selalu diurus oleh seorang nenek yang memiliki cucu bernama Kanta.

Hari pertama keluarga Kusakabe memasuki rumah itu, Satsuki dan Mei dikejutkan oleh banyaknya makhluk berbentuk bola-bola hitam kecil berbulu yang menghuni rumah tersebut. Tatsuo menyebut makhluk itu Makkuro Kurosuke. Sedangkan nenek Kanta menyebutnya Susu-atari (peri jelaga). Mereka hidup di rumah-rumah tua yang kosong, yang selalu menutupi rumah-rumah dengan jelaga dan debu. Menurut nenek Kanta, susu-atari itu akan segera pergi bila si penghuni rumah selalu tersenyum.

Sementara Satsuki sekolah dan Tatsuo sibuk dengan pekerjaannya, Mei bermain sendiri di halaman rumahnya. Mei menemukan biji-biji pohon ek di sepanjang jalan yang ia lalui. Saat itulah Mei melihat dua makhluk kecil kemudian mengikutinya. Dua makhluk itu membawa Mei pada sebuah pohon besar. Mei pun masuk ke lorong penuh akar dari pohon raksasa itu. Di sanalah awal pertemuan Mei dengan Totoro. Makhluk besar berbulu abu-abu. Bahkan, Mei tertidur di tubuhnya. Ketika Mei menceritakan pertemuannya dengan Totoro pada Satsuki dan Tatsuo, mereka tidak percaya.

Jumat, 30 Oktober 2015

The Secret World of Arrietty (Review Film)

The Secret World of Arrietty" (Karigurashi no Arrietty) adalah film produksi dari Studio Ghibli (2010). Film ini diadaptasi dari novel klasik karya Mary Norton yang meraih penghargaan Carnegie Medal pada tahun 1953. Penyutradaraan film ini dipercayakan kepada Hiromasa Yonebayashi. Sedangkan cerita dan skenarionya oleh Hayao Miyazaki dan Keiko Niwa. Film ini sukses meraih banyak penghargaan di negaranya.

Menonton The Secret World of Arrietty, kita disuguhi oleh gambar yang memukau; perpaduan warna yang indah dan hidup. Setiap detailnya terlihat sangat nyata. Misalnya, kamar tidur Arrietty dan kamar mandi (airnya menetes dari pipa yang bocor) dengan segala pernak-pernik yang mereka "pinjam" dari si pemilik rumah yang mereka tumpangi.

Tema cerita dari film ini tidaklah rumit. Jalinan ceritanya sederhana dan mudah diikuti. Tentang pertemanan Sho dan Arrietty serta petualangan mereka berdua dalam menyelamatkan keluarga Arrietty dari kepunahan.


Adalah Arrietty (14 tahun) seorang manusia kecil sebesar jari yang tinggal di bawah rumah tua Bibi Sadako. Arrietty tinggal bersama orang tuanya. Untuk bertahan hidup, mereka selalu mengambil apa pun yang mereka butuhkan dari si pemilik rumah. Mereka menamakan dirinya borrower (peminjam). Sebab, mereka mengambil apa pun yang mereka butuhkan tanpa manusia itu menyadarinya. Tentu saja karena dalam jumlah sangat kecil. Seperti gula, tisu, sabun dan biskuit. Pinjaman pertama yang dilakukan Arrietty pun hanya berupa sebuah jarum pentul yang tercecer, namun buat Arrietty berfungsi sebagai sebuah senjata, yang kelak akan membebaskan ibunya.

Suatu hari, seorang anak laki-laki bernama Sho (12 tahun) datang ke rumah itu. Sho yang menderita jantung bawaan ini sedang menunggu jadwal operasinya. Sho sudah menyadari keberadaan manusia kecil itu saat pertama kali memasuki halaman rumah Bibi Sadako. Pertemuan sekilas itu tidak membuat Sho terkejut dan takut. Sebab, ibu Sho sering menceritakan tentang keberadaan manusia kecil itu. Bahkan, sebuah rumah boneka milik ibu Sho yang ada di sana selama empat generasi adalah sebagai bukti bahwa manusia kecil itu memang ada. Rumah boneka itu dibuat oleh ayah Bibi Sadako sebagai hadiah untuk manusia kecil yang tidak pernah menampakkan dirinya.


Arrietty yang sudah cukup umur merasa senang saat ayahnya mengizinkan dia untuk melakukan peminjaman pertamanya sebagai seorang borrower. Namun, tugas pertamanya itu tidak berhasil. Sho menangkap basah Arrietty saat hendak mengambil tisu. Mereka pun kembali tanpa membawa hasil. Sejak itu, ayah Arrietty memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru. Dalam peraturan para borrower, keberadaan mereka tidak boleh diketahui manusia. Saat keberadaan mereka diketahui, mereka dalam bahaya.

Meskipun Sho menunjukkan sikap bersahabat, bahkan memberikan gula batu yang terjatuh saat Arrietty melarikan diri, ayah Arrietty melarangnya. Arrietty mengembalikan gula itu pada Sho dan meminta Sho agar tidak mengganggu mereka. Sementara itu, ayah Arrietty yang bermaksud mencari tempat tinggal baru, mengalami kecelakaaan kecil dan ditolong oleh seorang borrower lain yang bernama Spiller. Spiller juga yang nantinya akan membawa keluarga Arrietty pindah.

Namun, belum sempat mereka pindah, ibu Arrietty ditangkap dan dikurung dalam sebuah botol oleh pembantu Bibi Sadako (Haru), yang memiliki ketertarikan sangat besar akan keberadaan manusia kecil ini. Cerita selanjutnya... tonton saja filmnya! Kita akan dibawa dalam sebuah cerita fantasi dengan petualangan penuh imajinasi.

Sayang, cerita tidak berakhir dengan manis. Namun, ada pesan moral yang kuat dalam film ini. Perjuangan dan keberanian untuk bisa bertahan hidup dalam menghadapi apa pun. Sho belajar hal itu dari Arrietty.

Beberapa karakter dalam film ini yang melekat di benak saya adalah karakter Homily (ibu Arrietty) yang mudah panik dan histeris serta karakter Haru yang usil karena rasa penasarannya yang besar tentang keberadaan manusia kecil itu. Ekspresi Haru yang gagal membuktikan bahwa ada manusia kecil di rumah itu, membuat saya lega dan puas. Di mata saya, Haru itu sangat menyebalkan dan culas. Sesuai dengan wajahnya (he he he). ☺

Saya benar-benar salut dengan film ini. Setiap detail pada film ini benar-benar dipikirkan dengan baik. Misalnya, air untuk kamar mandi si borrower itu dan teko yang mereka gunakan sebagai alat transportasi. Oya, ost dalam film ini sangat indah, walaupun terdengar sendu. (@analydiap07)

Senin, 26 Oktober 2015

Ponyo on the Cliff by the Sea (Review Film)

Sekuat apa pun usaha Fujimoto menentang keinginan Brunhilde (seekor ikan mas) untuk menjadi manusia, sekuat itu pula keinginan sang anak untuk menjadi manusia. Keinginan itu timbul karena Brunhilde telah mencicipi darah Sosuke, seorang anak laki-laki berumur lima tahun, anak dari pasangan Koichi (seorang kapten kapal) dan Lisa (perawat di sebuah panti jompo).

Pertemuan dan pertemanan singkat antara Sosuke dan Brunhilde berawal ketika Brunhilde terjebak di dalam sebuah botol yang terapung di tepi laut. Untuk membebaskan Brunhilde dari botol itu, Sosuke memecahkannya dengan menggunakan batu sehingga menyebabkan jempolnya terluka. Darah dari luka itulah yang Brunhilde jilat sehingga sembuh.

Ternyata, Brunhilde bukanlah ikan mas biasa. Ia bisa berbicara dan memiliki kekuatan magis. Lalu, Sosuke memberi nama ikan mas itu Ponyo. Pertemuan singkat itu telah mendekatkan mereka. Membuat mereka merasa saling memiliki dan menyayangi.


Namun, sang ayah (Fujimoto) yang mantan manusia, membawa kembali Ponyo ke lautan. Mengurung Ponyo dan menggunakan kekuatan ramuan sihirnya agar bisa menghalangi Ponyo menjadi manusia. Fujimato sangat membenci manusia karena menurut Fujimoto, manusia penyebab polusi dan perusak kehidupan di laut.

Dengan bantuan adik-adiknya (sekumpulan ikan mas), Ponyo berhasil melarikan diri, lalu menggunakan ramuan sihir sang ayah sehingga ia memiliki kekuatan yang besar. Tujuan utama Ponyo setelah menjadi manusia adalah menemui Sosuke. Sementara itu, Sosuke pun sangat murung karena kehilangan Ponyo.


Ponyo tidak menyadari bahwa kekuatan yang ia miliki telah menyebabkan ketidakseimbangan alam. Air laut menjadi meluap, badai dan gelombang besar membuat kapal-kapal bertumpuk seperti gunung sehingga mengakibatkan aliran listrik dan telepon menjadi mati. Orang-orang harus mengungsi mencari tempat yang aman karena daratan dipenuhi oleh air laut, layaknya Tsunami. Sementara Ponyo sendiri merasa sangat senang karena bisa bertemu lagi dengan Sosuke dan tinggal di rumahnya.

Merasa tidak bisa mengatasi kekacauan yang dibuat Ponyo, Fujimoto meminta bantuan sang istri yaitu Gran Mamare, seorang dewi laut. Maka, setelah mengatasi kekacauan yang dibuat Ponyo, Gran Mamare membuat kesepakatan dengan Lisa. Jika Ponyo ingin menjadi manusia untuk selamanya, Sosuke harus mengasihi Ponyo seperti Ponyo mengasihi Sosuke. Sosuke harus menerima Ponyo apa adanya. Baik Ponyo sebagai ikan, manusia atau setengah ikan dan manusia. Bila tidak, Ponyo akan kembali menjadi buih, dari mana ia berasal. Hal yang tidak diinginkan Fujimota. Sosuke pun menyanggupinya dan berjanji akan menerima Ponyo apa adanya. Selain itu, Ponyo pun harus bersedia menyerahkan kekuatannya.

Ada banyak pesan moral yang disampaikan dalam film ini. Tentang ketulusan, kasih sayang, saling memiliki, peduli akan sesama dan juga tentang kelestarian lingkungan hidup di lautan.

Bagi pencinta film animasi produksi Studio Ghibli, tentunya sudah tidak aneh lagi dengan alur cerita pada setiap film produksinya. Di film ini pun kita akan melihat, ada begitu banyak kejadian yang tidak masuk akal dan di luar nalar. Perpaduan antara dunia nyata dan fantasi. Namun, itulah yang menarik dari film-film produksi Studio Ghibli. Penuh imajinasi liar, fantasi tingkat tinggi, alur yang tidak biasa serta tokoh utamanya hampir selalu anak-anak atau remaja. Yang pasti, selalu sarat akan pesan moral. Apalagi didukung oleh gambar yang memukau (meskipun menggunakan media 2 dimensi). Di film ini, kita bisa melihat kehidupan di dasar laut yang sangat memanjakan mata. Film ini pun sangat cocok ditonton oleh seluruh keluarga. Sangat menghibur, menyentuh, dan meninggalkan kesan yang mendalam di benak penontonnya.

Buat saya pribadi, Ponyo itu lucu dan menggemaskan. Dengan ember di tangan, lampu di kepala dan handuk di pundak, membuat saya sulit menahan senyum. Cara dia berbicara dan mengulang kalimat yang sama, terlihat polos dan jujur. Saat Ponyo tidur pun manis sekali (tidak memilih tempat he he he).

Salut untuk Hayao Miyazaki, sang sutradara sekaligus penulis cerita dan skenarionya. Dari ide yang sederhana, tercipta karya yang luar biasa. Film ini pun sukses memperoleh beberapa penghargaan. Sejak Spirited Away, saya jatuh cinta berat dengan film-film Studio Ghibli. Yang saya sesalkan, saya tidak bisa menulis cerita anak atau dongeng seperti beliau. Hiks.

Ponyo on the Cliff by the Sea (Gake no Ue no Ponyo) adalah film yang terlalu memukau untuk dilewatkan. Cerita tentang ketulusan mengasihi yang manis dan menyentuh, membuat kita tersenyum lega saat cerita berakhir. ♡♡♡

Selamat menonton! Yang belum punya filmnya, silakan cari di internet.* (@analydiap07)

Selasa, 21 Juli 2015

When Marnie Was There (Review Film)


Diadaptasi dari cerita anak karya penulis asal Inggris Joan G. Robinson, film When Marnie Was There (Omoide no Marnie) adalah film produksi tahun 2014 dari Studio Ghibli. Skenarionya sendiri ditulis oleh sang sutradara, Hiromasa Yonebayashi bersama Keiko Niwa dan Masashi Ando.

When Marnie Was There adalah sebuah film keluarga yang mengangkat tema tentang kasih sayang dan persahabatan yang berbalut misteri. Seperti biasa, film-film animasi produksi Studio Ghibli selalu menampilkan gambar yang artistik dan memanjakan mata.

Film ini menceritakan tentang persahabatan Anna Sasaki (12 tahun, tinggal di Sapporo) dengan Marnie, gadis bule berambut pirang yang cantik dan periang. Ketika Anna dititipkan oleh ibu angkatnya (Yoriko Sasaki) pada keluarga Oiwa di sebuah desa untuk mengobati penyakit asmanya, Anna sering melihat gadis itu di sebuah rumah tua, di tepi rawa. Gadis yang ada dalam mimpinya. Menurut penduduk setempat, rumah itu sudah lama ditinggal penghuninya. Kabar yang beredar pun mengatakan bahwa rumah itu ada hantunya.

Sabtu, 18 Juli 2015

12 Angry Men (Review Film)

Sebagai film klasik yang menggunakan media film hitam putih, film ini sangat menarik untuk ditonton. Film 12 Angry Men adalah film drama Amerika Serikat yang diproduksi pada tahun 1957. Cerita dan skenario film ini ditulis oleh Reginald Rose dan disutradarai oleh Sidney Lumet.

Cerita pada film ini berlatar belakang dunia peradilan. Tepatnya sebuah film tentang persidangan yang menetapkan 12 juri terpilih (dipanggil melalui surat) untuk berembuk dan memutuskan bersalah atau tidaknya seorang anak muda 18 tahun yang dituduh membunuh ayahnya. Meskipun ada dua orang saksi kunci dan barang bukti yang memberatkan, ternyata tidak semudah itu menetapkan seseorang dinyatakan bersalah. Perlu suara bulat untuk memutuskan hasil akhirnya.

Setelah mengikuti jalannya persidangan selama enam hari, kedua belas juri ini berkumpul dalam sebuah ruangan (ruang juri) yang dikunci dari luar. Perdebatan dan konflik dimulai saat seorang juri #8 (Henry Fonda) memutuskan anak muda itu tak bersalah. Bukan mutlak tidak bersalah, tapi karena ada unsur keraguan dan perlu waktu untuk mengkajinya kembali.


Pernyataannya itu membuat juri lainnya tidak terima, bahkan ada beberapa juri yang berang. Alhasil, selama film berlangsung, ruangan itu dipenuhi dengan perdebatan dan adu argumen yang seru. Bayangkan, dua belas orang yang tidak saling mengenal, dengan latar belakang, profesi, karakter dan pemikiran berbeda, membuat ruang juri yang sudah panas semakin panas. Masing-masing mengungkapkan pendapatnya tentang keputusan yang mereka ambil. Detail-detail yang dianggap sepele dan tak terpikirkan pun dibicarakan. Dari barang bukti, waktu, latar belakang kedua saksi kunci serta tempat kejadian peristiwa.

Adegan saat juri #3 (Lee J. Cobb) tersulut emosinya 

Sebenarnya, 12 Angry Men adalah sebuah film drama dengan cerita yang sederhana. Namun, dengan didukung oleh kekuatan akting pemainnya, cerita dan skenario yang kuat dan dialog-dialog yang cerdas, menjadikan film ini sangat luar biasa. Jalan ceritanya mengalir dan mudah diikuti.

Banyak kejutan yang menarik dalam film ini. Kita akan melihat, bagaimana proses perubahan jumlah suara bisa terjadi. Perlahan, tetapi meyakinkan, juri #8 ini mengubah pandangan para juri lainnya. Sangat masuk akal dan benar-benar memikat! Wajar bila 12 Angry Men dipilih sebagai film yang harus dilestarikan di Amerika Serikat National Film Registry oleh Library of Congress sebagai "budaya, historis atau estetis signifikan".


Yang belum menonton film ini, buruan deh cari filmnya! Percaya deh, nggak cukup sekali menontonnya. Film ini benar-benar keren. Buat saya, ini film jadul pertama yang saya tonton dan suka, suka, suka! Ada satu adegan yang membuat saya kagum, saat hanya empat juri lagi yang tetap dengan keputusan bersalahnya. Namun, karena sesuatu yang dipakainya, seorang juri #4 (E.G. Marshall) akhirnya.... Tonton aja, deh! Pokoknya dijamin memuaskan.

Film ini pun mengingatkan kepada kita agar tidak terburu-buru dalam mengambil suatu keputusan sebelum mempertimbangkannya dari segala sudut pandang. Apalagi dalam hal ini, menyangkut nyawa seseorang yang harus mereka tentukan dalam waktu lima menit! (@analydiap07)