Tampilkan postingan dengan label Gogirl Magz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gogirl Magz. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Agustus 2017

Teman Seperjalanan (Gogirl! 15 Juli 2017)

Gogirl Magz
Aku yang paling terkejut saat Papa bercerita tentang abangku. Anak Papa dari wanita lain. Sementara Mama tampak tenang duduk di samping Papa. Kurasa Mama sudah tahu lebih dulu. Sulit kubayangkan, apa reaksi Mama mengetahui masa lalu Papa. Yang pasti, aku tidak bisa menerima berita mengejutkan ini. Untuk beberapa saat, yang kami lakukan adalah membiarkan keheningan mengambil alih waktu.

"Papa memang pernah melakukan kesalahan.Tapi, selama ini, Papa selalu berusaha menjadi ayah yang baik untukmu. Melakukan yang terbaik untuk keluarga ini." Suara Papa memecah keheningan, berujar hati-hati.

"Sekarang, Papa ingin menjadi ayah yang baik untuk abangmu," lanjut Papa melihatku hanya diam. Mata Papa menatapku lekat, menghela napasnya sebelum berujar lagi.

"Selama ini Papa telah mengabaikannya. Tanpa Papa sadari." Suara Papa lirih. Mungkin menyesali perbuatannya di masa lalu.

Minggu, 30 April 2017

Sansevieria (Gogirl! 15 April 2017)

Cerpen ini dimuat di Gogirl!Magz.com edisi 15 April 2017
Vanya tidak pernah mengerti, apa rencana Tuhan? Merenggut Papa, lalu menghadirkan sosok lain dalam kehidupan mereka.

Tiga tahun sudah, Vanya tak pernah bisa sehari pun menepis kenangan tentang Papa dan kerinduannya yang tak pernah berhenti menghadirkan duka pada setiap helai bulu mata. Perasaan yang kerap membuatnya ciut.

Tak bisa ia pungkiri, bagaimana kepergian Papa telah mengubah hidupnya. Sampai kini, ia masih sulit menerima kenyataan itu. Setelah hari itu, semua tidak sama lagi. Seperti langit tersaput awan kelabu. Begitu sunyi dan muram. Mama yang memilih membenamkan hari-harinya dengan pekerjaan kantor. Mama yang berubah menjadi ibu yang hemat bicara. Sedang ia sendiri, masih belum bisa menerima kehilangan orang terkasih dalam hidupnya. Masih meratapi kesedihan dan menjaga luka di hatinya.

"Ketika kamu kehilangan orang yang kamu cintai, dia tidak benar-benar meninggalkanmu. Dia hanya pindah ke tempat khusus di hatimu."

"Aku tidak ingin Papa ada di hatiku, Ma. Aku menginginkan Papa ada di sini, bersama kita." Vanya menangkis kata-kata Mama dengan suara serak menahan tangis.