Tampilkan postingan dengan label IDN Times. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IDN Times. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Agustus 2020

Aku, Dia, dan Lelaki dalam Hidup Kami (IDN Times)

IDN Times
Aku merasa ada lebam di hatiku

Saat ini dia berdiri di hadapanku dengan tatapan yang sama. Seperti delapan tahun lalu. Selalu hangat bak fajar pagi, juga melumpuhkan hati. Delapan tahun lalu–meski tak lama–dia pernah menjadi bagian dari hari-hariku, mewarnai masa remajaku. Meninggalkan cerita manis dan getir yang masih tertoreh di hati. Detik ini juga kubiarkan kenangan mengambil alih waktu, melemparku ke masa lalu.

Sekolah baru berarti lingkungan baru, teman-teman baru, dan hari-hari baru siap menyambutku tatkala Mama dimutasi ke tempat kerja baru. Sesungguhnya, hidup kami memang tidak sama lagi sejak kepergian Papa. Ya, Papa meninggalkan aku dan Mama tanpa sebaris kalimat perpisahan pun yang Papa tinggalkan untukku. Sulit kupercaya dan kumengerti, bagaimana bisa seorang ayah melakukan hal itu kepada aku, anak tunggalnya? Bukankah aku buah dari cinta mereka? Memikirkan kenyataan itu terlalu menyakitkan buatku.

Kamis, 28 November 2019

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Memiliki Role Model dalam Hidup (IDN Times)

IDN Times
Role model membantu kamu mengendalikan diri

Kesuksesan hidup setiap orang tentunya tidak sama. Perjalanan dan usaha yang dilakukan untuk mencapai kesuksesan itu pun pasti berbeda. Proses panjang seseorang dalam meraih kesuksesan itulah yang sering dijadikan contoh atau teladan bagi orang lain.

Dari orang-orang sukses ini kamu bisa belajar banyak hal seperti bagaimana cara mereka meraih kesuksesan, seperti apa mereka menghadapi rintangan yang mengadang, bagaimana cara mereka memecahkan masalah yang ada, serta apa yang mereka lakukan agar bisa bangkit dari keterpurukan.

Secara tidak langsung, para role model inilah yang akan mengajarkan atau membimbing kamu untuk meraih kesuksesan. Karena itu, keberadaan role model dalam hidupmu sangatlah penting.

Berikut lima alasan mengapa kamu harus memiliki role model dalam hidupmu. Yuk, simak!

1. Membuat kamu tahu tujuan hidupmu dan proses yang akan kamu lalui


Ketika kamu memiliki mimpi besar dalam hidupmu, tentunya kamu butuh seseorang yang bisa kamu jadikan contoh atau panutan. Kamu butuh sosok orang-orang sukses yang kompeten dan punya pengaruh besar dalam bidangnya.

Dengan memiliki role model kamu tahu gambaran keseluruhan yang menjadi mimpi besarmu, kehidupan masa depan seperti apa yang ingin kamu raih dan wujudkan. Keberadaan role model ini memotivasi kamu agar bisa seperti mereka.

2. Membuat kamu memahami atau mengenali dirimu sendiri


Setiap orang memiliki ketertarikan atau minat yang berbeda. Dengan memiliki role model, kamu terbantu dalam menemukan apa yang menjadi minat dan bakatmu sehingga tahu potensi apa yang ada pada dirimu.

Dengan mengenali dirimu sendiri, kamu akan tahu kelebihan dan kekuranganmu sehingga memudahkanmu dalam mengembangkan potensi yang ada pada dirimu, sesuatu yang menonjol dan menjadi passion-mu. Gali dan kembangkanlah apa yang menjadi passion-mu!

Bila kamu merasa ragu akan potensi yang ada pada dirimu, mintalah bantuan orang tua, teman, atau pasanganmu untuk mengenali potensi yang ada pada dirimu.


3. Role model akan membantu membentuk karaktermu


Karakter setiap orang sudah pasti berbeda. Begitupun dengan cara pandangnya. Sesuatu yang wajar memiliki lebih dari satu role model. Mereka membantu kamu dalam menemukan karakter yang sesuai dengan kepribadianmu.

Sebab, sekalipun kamu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan role model-mu, hasilnya belum tentu sama. Begitupun dengan proses yang kamu jalani juga pasti tidak sama. Cari karakter role model yang sesuai dengan kepribadianmu. Kamu harus pandai dan jeli dalam menerapkan setiap tindakan dan cara pandang role model-mu ke dalam kehidupanmu.

4. Kamu tahu standar hidup dan kesuksesan yang ingin kamu capai


Selain tiga poin di atas, keberadaan role model pun akan memotivasi kamu agar bisa lebih sukses daripada role model-mu, setidaknya bisa sesukses role model-mu. Kamu jadi tahu standar hidup dan kesuksesan yang ingin kamu capai.

Dari para role model itu kamu bisa memperbaiki kesalahan yang pernah mereka lakukan sehingga kamu bisa mengantisipasinya. Jadi, kamu tidak melakukan kesalahan atau kegagalan yang sama, seperti yang terjadi pada role model-mu.

5. Membuatmu menjadi orang yang tahu menghargai proses dan kerja keras


Perjuangan panjang dan kerja kerasmu dalam mewujudkan mimpimu itu akan menempanmu menjadi sosok yang tangguh, tidak mudah putus asa, serta bertanggung jawab. Kamu menjadi tahu, keberhasilan dan kesuksesan bukan sesuatu yang instan. Semua tergantung pada seberapa keras kamu berusaha tanpa mengabaikan campur tangan Tuhan.

Nah, proses panjang yang kamu lalui serta jatuh bangun kamu agar bisa sukses telah memberimu pelajaran hidup yang berharga bahwa setiap usaha dan kerja keras tidak ada yang sia-sia.(alp)



Sumber gambar: Pixabay/Geralt
27/11/19

Sabtu, 21 September 2019

Pikirkan 5 Alasan Ini agar Terhindar dari Predikat Orang Ketiga (IDN Times)

IDN Times
Jangan sampai cap buruk menempel padamu!

Mengendalikan hati tidak semudah membalik telapak tangan. Saat kamu menemukan seseorang yang membuatmu bahagia dan nyaman, tetapi dia milik orang lain, kamu sering lupa, bahkan mendadak lupa bahwa perasaan yang kamu miliki itu sangat rentan dan berisiko.

Belum lagi cap buruk sebagai orang ketiga pun akan kamu terima seandainya kamu berhasil mendapatkan dia. Predikat yang sangat tidak menyenangkan, menguras hati, perasaan, dan pikiran. Sebelum kamu telanjur cinta mati terhadapnya dan mendapat cap buruk karena merusak hubungan seseorang, pikirkan dulu lima alasan ini, deh!

1. Hubungan harmonis tidak kamu dapatkan dari merusak hubungan orang lain


Menginginkan seseorang yang bukan milikmu tentu saja perbuatan yang tak termaafkan, sekalipun dengan dalih cinta. Seandainya kamu berhasil memiliki dia dengan mendepak orang lain yang ada di sisinya, sudah pasti meninggalkan luka hati pada mantan dari orang yang kamu cintai.

Seandainya kamu dan dia bisa bersatu, perasaan bersalah tidak akan pernah lepas dari pikiranmu. Akan selalu ada penyesalan yang berpotensi menganggu keharmonisan hubungan kamu dan dia.

Minggu, 15 September 2019

5 Alasan Hubungan Jarak Jauh Kalian Akan Segera Berakhir (IDN Times)

IDN Times
Segala hal bisa saja terjadi saat kamu dan dia berjauhan

Menjalani hubungan jarak jauh memang tidak mudah, entah karena si dia harus pindah rumah, melanjutkan sekolah, atau kuliah ke luar kota. Bila selama ini kamu dan dia banyak menghabiskan waktu bersama, tetapi jarak bisa mengubah hal ini. Sulit dihindari bila suasana hati kalian pun ikut berubah dan memengaruhi hubungan kalian.

Nah, ini lima hal yang membuat hubungan kalian berada di ujung tanduk dan akan segera berakhir.

1. Merasa terikat atau terkekang


Dunia di luar sana begitu luas, sementara kalian merasa ikatan di antara kalian tidak menjamin kalian akan tetap bersama. Kalian merasa berhak mendapat kesempatan yang lebih baik lagi.

Saat komitmen yang kalian sepakati bersama itu terasa mengekang dan mengikat kebebasan kalian untuk bersosialisasi dengan teman-teman lainnya, kalian mungkin akan berpikir betapa menyenangkannya bila tidak memiliki kekasih yang berjauhan.

Selasa, 23 Juli 2019

5 Tips agar Kritikanmu Tepat Sasaran (IDN Times)

IDN Times
Jangan biarkan caramu mengkritik membuatmu kehilangan teman

Menjalin pertemanan itu gampang-gampang susah. Untuk bisa tetap eksis di lingkungan pertemanan, kamu dituntut agar bisa menjaga pertemanan dengan baik. Perbedaan karakter, minat, dan kebiasaan kerap menjadi sebab berakhirnya sebuah hubungan pertemanan. Belum lagi kebiasaan dan sifat buruk teman yang kadang tidak sesuai, bahkan membuat kamu menjadi bersitegang dan memutuskan untuk menjauh darinya. Wajar bila kamu berharap dia bisa mengubah sifat dan kebiasaan buruknya itu.

Mengubah kebiasaan buruk seseorang itu tidak mudah. Salah satu caranya adalah dengan memberi kritikan. Tentu saja semua itu tidak bisa kamu lakukan dengan instan. Sayangnya, tidak semua kritikan bisa kamu lontarkan atau berikan pada seseorang, sekalipun dia sahabat terdekatmu. Ada aturannya agar tidak membuat pertemanan berakhir dengan buruk. Tentu saja bukan kritikan yang menjatuhkan, tetapi membangun. Demi kebaikannya

Kamis, 18 Juli 2019

Tentangmu yang Menguasai Ruang Sunyi di Hatiku (IDN Times)

IDN Times
Kamu mungkin akan tertawa melihat kebodohanku

Ada yang tidak mampu kulupa. Tentang percakapan dini hari kita. Percakapan yang hampir setiap dini hari kita lakukan, bahkan tak jarang baru berakhir ketika pagi menjelang. Sesuatu yang mungkin tidak kamu tahu, aku selalu berusaha mengoleskan sedikit kayu putih pada kelopak mataku, sekadar berusaha mengusir kantuk yang menerjang. Bahkan, aku masih berusaha menahan kepalaku yang berkali-kali terjatuh sekadar ingin membalas pesanmu dan menanti pesan apa yang kamu kirim untukku.

Aku selalu lupa, ah bukan, aku memang tidak ingat, mengapa kita bisa begitu dekat. Aku tahu, kamu bukan sosok yang mudah dekat dengan siapa pun. Aku juga tahu, kamu bukan tipe orang yang mudah membuka hatimu untuk siapa pun.

Sulit kupercaya saat kamu memberikan nomormu dengan alasan agar aku punya teman berbincang saat terjaga tengah malam. Saat ini, aku menyesal tidak menanyakan alasanmu. Apa aku terlalu terkesima mengetahui siapa dirimu? Apa aku terlalu bahagia kamu membuka hatimu untukku? Entahlah.

Terlalu banyak perbedaan di antara kita. Kamu seseorang yang memandang segalanya berdasarkan analisismu dan aku selalu menyertakan perasaanku. Dalam hal apa pun, kita tidak pernah bertemu dalam satu titik yang sama. Percakapan kita melalui pesan-pesan singkat dan panjang pun tak pernah berujung mufakat. Bagaimana bisa, aku yang tidak suka diatur dan kamu yang suka mengatur serta memaksakan pendapatmu–yang aku akui kebenarannya–bisa terlibat percakapan panjang seolah tak berujung? Lucunya, kita seolah enggan untuk mengakhiri percakapan kita. Ya, itulah kita. Aku dan kamu.

Sejujurnya, aku menyukai percakapan dini hari kita. Saat tumpukan pekerjaan memaksamu untuk jeda sejenak. Saat dingin pagi membuat tanganku gemetar mengetik pesan untukmu. 

Aku menikmati setiap detik yang bergulir bersamamu. Apakah ini salah? Perasaan yang aku miliki? Rasa yang tumbuh di hatiku? Perasaan yang menyiksaku. Perasaan yang membuatku takut suatu hari kamu akan pergi dariku. Ketakutan yang tidak beralasan dan konyol. Mungkin karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan. Menyedihkan, bukan?

Tidak ada yang salah di antara kita. Mungkin ini hanya rasaku saja. Sejujurnya, kamu tidak pernah menawarkan rasa apa pun padaku. Tidak juga hatimu. Sejak awal aku sudah tahu semuanya. Aku mengerti seperti apa hubungan kita. Mungkin karena aku terlalu nyaman bersamamu. Membicarakan segala hal denganmu.

Ah, seharusnya tidak kubiarkan hatiku bermain-main di hatimu. Tidak seharusnya kubiarkan perasaanku mengembara terlalu jauh hingga memasuki ruang di hatimu. Kamu seolah menyediakan celah yang memudahkan aku masuk ke dalam hatimu. 

Perempuan seperti apa aku ini? Saat ini, apakah terlambat bagiku untuk menghapusmu? Sesulit inikah melepasmu dari ingatanku? Saat aku sadari, betapa aku selalu merindukan percakapan dini hari kita. Kerinduan yang sudah menjadi candu untukku.

Selamat malam, sudah tidur? Apa yang kamu lakukan seharian ini? Apakah harimu menyenangkan? Tadi kamu tidak terlambat makan siang, ‘kan? Sudah makan malam? Tidurlah, jangan terlalu malam! Tidak baik untuk kesehatanmu. Apa perlu aku menyanyi untukmu? Ingin aku pilihkan lagu untuk pengantar tidurmu malam ini? Jangan "And I am Telling You I’m Not Going" lagi, apa kamu tidak bosan lagu itu? Tidak juga "Perfect" atau "Flashlight". Bagaimana kalau "Menua Bersama"? Saling bantu berdiri tersenyum dan menatih ....

Kamu sudah menyelesaikan novel yang kamu pinjam kemarin? Bagaimana ceritanya? Apakah aku harus membacanya juga? Oya, film yang aku bilang kemarin, apa sudah kamu tonton? Bagaimana menurutmu? Apa kita akan mengulasnya malam ini? Hmmm, jangan terlalu lelah. Jaga kesehatanmu. Aku sedih bila kamu sakit. Kamu membuat aku cemas. Jangan lakukan itu.



Betapa aku merindukan semua pertanyaan itu memenuhi aplikasi chat-ku. Perhatian kecil yang tidak pernah berhenti membuat perasaanku melambung. Perhatian kecil yang membuatku tidak peduli siapa dirimu. Perhatian kecil yang membuat aku menjadi perempuan serakah dan tidak tahu malu.

Konyolnya, hatiku menolak untuk tersadar. Ah, begitu besarkah artimu bagi diriku? Sehingga aku menolak untuk kehilanganmu? Kurasa, ada yang salah dengan isi kepalaku. Juga hatiku.

Kata perpisahan memang tidak pernah terlontar darimu. Baik secara langsung saat kita bertemu maupun melalui pesan. Namun, aku terlalu enggan untuk menanyakan perubahan sikapmu. Bisa jadi, aku terlalu takut mendengar pengakuanmu bila kutanyakan kesenjangan yang tercipta di antara kita. 

Takut kamu mengatakan sesuatu yang akan membuatku terluka. Takut kamu mengatakan bahwa apa yang terjadi di antara kita adalah suatu kesalahan atau kekhilafan? Ketakutan yang seharusnya tidak boleh ada. Ya, seharusnya karena kita tidak pernah bersepakat dalam satu rasa.

Sejak awal kita tahu di mana posisi kita masing-masing. Di mana sebenarnya hati kita berada. Oh, bukan. Tepatnya, di mana hatimu berada. Namun, aku berusaha tidak peduli akan kenyataan itu. Aku terlalu nyaman bersamamu. Aku takut kehilanganmu. Aku takut bila tidak bersamamu, melewati dini hari yang hening tanpa menerima pesanmu. 

Tidak rela kehilangan perhatian-perhatian kecil yang membungkus hangat hatiku. Perhatian kecil yang tak pernah gagal menghadirkan senyum tipis di bibirku, degup tak beraturan di jantungku, serta perasaan asing yang mengaliri sel-sel di tubuhku. Konyolnya, aku izinkan perasaanku lepas kendali karenamu.

Sesungguhnya, aku merindukan percakapan dini hari kita. Saat anganku tak mampu melupakanmu sedikit pun. Tentangmu yang terlalu dalam tertinggal di ingatanku. Menguasai seluruh ruang di kepalaku. Sesulit apa pun aku berusaha untuk melenyapkanmu dari ingatanku, tetapi aku selalu balik pada titik yang sama, aku terlalu takut kehilanganmu. Kamu mungkin akan tertawa melihat kebodohanku.

Aku selalu ingat apa yang kamu katakan di awal kedekatan kita. Saat itu aku hanya tertawa tanpa suara mendengar kata-katamu. Bila kamu tahu apa yang terjadi dengan hatiku, mungkin kamu yang akan tertawa melihat kebodohanku. Bisa jadi juga kamu kasihan padaku.

Kamu berhasil mengacaukan perasaanku. Mematahkan hatiku. Konyolnya, aku butuh patah berkali-kali untuk bisa melupakanmu. Membencimu. Terlalu banyak ruang di hati dan ingatanku yang kamu curi dariku. Menyedihkannya, kamu tidak tahu itu. Mungkin kamu memang tidak peduli itu.

"Jangan jatuh cinta padaku karena kamu akan terluka. Aku telah memilih di mana hatiku berlabuh. Tapi, jika kamu sedang bersedih dan perlu teman bercerita, hubungi aku. Aku akan selalu ada untukmu. Aku akan menghiburmu. Aku akan membuatmu kembali tersenyum."

Kamu benar. Kamu telah berhasil membuatku tersenyum sekaligus menangis. Tidak ada sehari pun tentangmu yang lolos dari ingatanku. Tidak ada yang baik-baik saja denganku setelah kita menjauh. Ini bukan salahmu. Semua tentang rasa yang ada di hatiku. Sekali pun aku tidak pernah menyesalinya. Tentang rasa yang tidak pernah sampai ke hatimu. Tentang ingatan yang tidak bisa mati di benakku.

Sejujurnya, aku masih merindukan percakapan dini hari kita. Aku terlalu payah untuk melupakan segala tentangmu. Sepayah usahaku untuk tidak mengingat percakapan dini hari kita. Sesuatu yang ingin aku hapus tentangmu. Tentangmu yang menguasai ruang sunyi di hatiku. Ternyata sesulit ini melupakanmu. Apa aku yang terlalu payah dalam hal melupakan?

Bagaimana denganmu? Aku yakin kalian baik-baik saja. Aku melihat rona bahagia itu di wajah kalian. Ya, kamu dengan pemilik hati di mana kamu labuhkan hatimu. Aku masih waras dan tahu diri untuk tidak menjadi orang ketiga bagi hubungan kalian. Aku selalu mampu menyimpan perasaanku rapat-rapat darimu. Aku tidak pernah bisa merusak hubungan kamu dengan dia. Mungkin juga aku tidak punya keberanian untuk melakukannya. Sekalipun pikiran jahat itu ada di kepalaku.

Dini hari ini aku hanya ingin membencimu. Apakah itu bisa untuk menghapus seluruh tentangmu?(alp)


** Untuk siapa pun yang masih terjebak dalam friendzone


Sumber gambar: Pixabay/Free-Photos
17/07/19

Sabtu, 22 Juni 2019

Selalu Ada Maaf untuk Cinta yang Tidak Pernah Salah (IDN Times)

IDN Times

Cinta memiliki jalannya sendiri untuk bahagia

Entah apa yang membuatku tergerak dan melunakkan hatiku yang selama ini keras untuk kembali ke rumah. Kembali ke masa lalu dan memutar kembali roda kenangan yang pernah aku jalani dulu. Mengizinkan ingatan kembali mengarungi hari usang yang telah berlalu, sama dengan merasakan kembali perasaan dan sakit yang sama.

Sulit bagiku mengingat kenangan manis yang pernah aku buat dengan seseorang yang sampai saat ini akan tetap aku panggil Mama. Selain, tentunya, hanya kisah pahit. Bahkan, bisa dibilang buruk yang membekas kuat di ingatanku selama menjadi bagian dari mereka, Mama dan Kak Serein, yang tidak pernah gagal membuatku merasa hanya sosok asing yang tersesat dan tidak tahu harus ke mana mencari tempat berlindung.

Ada banyak alasan yang membuat aku enggan bertandang ke rumah Mama. Perasaan bahwa aku hanyalah seseorang yang tidak mereka harapkan–yang merusak kedamaian hidup Mama dan Kak Serein–sudah seperti alarm peringatan kalau aku tidak diterima di rumah itu. Sejak dulu, sejak Papa membawaku masuk dalam kehidupan keluarganya yang lain. Sejak aku berumur 4 tahun.

Jumat, 31 Mei 2019

5 Hal Negatif Ini Akan Merasukimu Saat Rasa Iri Meracuni Hatimu (IDN Times)

IDN Times

Iri hati menimbulkan kedengkian, hujat, dan fitnah

Banyak hal yang menyebabkan seseorang diracuni oleh salah satu dari tujuh dosa mematikan (seven deadly sins) ini. Bahkan, tanpa kamu sadari perasaan ini kerap menyelinap di hatimu dan muncul tiba-tiba. Selama rasa iri itu bisa memotivasi kamu untuk mencapai kebaikan dengan cara yang positif, mengapa tidak? Sayangnya, rasa iri ini lebih merujuk pada hal negatif yang menimbulkan kedengkian, hujat, dan fitnah.

Saat hatimu dirasuki perasaan iri, pikiran-pikiran negatif pun datang menghampiri dan mengacaukan hidupmu. Tanpa kamu sadari, menjauhkanmu dari perasaan bahagia. Nah, 5 hal negatif ini akan merasuki dan meracuni hatimu akibat dari menyimpan rasa iri.

Minggu, 07 April 2019

Sulit Berteman? 6 Cara Ini Ampuh Mengatasi Rasa Rendah Dirimu (IDN Times)

IDN Times
Kamu harus mampu mengatasinya

Apakah kamu orang yang sering dihinggapi perasaan bahwa dirimu tidak menarik? Merasa tidak tampan, tidak cantik, tidak pintar, atau tidak punya prestasi yang bisa kamu banggakan? Bahkan, mungkin saja kamu merasa terlahir dengan membawa banyak kekurangan? Sehingga, menjalin pertemanan dan berbaur pun sesuatu yang sangat sulit bagimu. Perasaan bahwa dirimu tidak layak ini tentu saja akan menghambat pergaulanmu dan menyulitkan langkahmu untuk maju.

Jika kamu memiliki pemikiran seperti itu, bisa dipastikan bahwa kamu orang yang mengalami rasa tidak percaya diri alias rendah diri atau minder. Parahnya, perasaan ini bisa merugikan dirimu sendiri. Kamu harus mengatasinya. Karena itu, lakukan hal-hal di bawah ini untuk mengatasi rasa mindermu.

Sabtu, 06 April 2019

5 Hal yang Harus Kamu Pahami Saat Bicara tentang Cita-Cita (IDN Times)

IDN Times
Apa cita-citamu?

Sejak kecil, tentunya kamu sering mendapat pertanyaan tentang cita-cita, bukan? Selalu ada banyak pilihan jawaban untuk pertanyaan ini. Tentu saja karena setiap orang memiliki keinginan yang berbeda yang menjadi pilihan hidupnya.

Namun, sejauh mana pemahamanmu tentang cita-cita ini? Yuk, kita simak!

1. Berbicara tentang tujuan hidupmu


Namanya orang hidup, sudah pasti kamu punya mimpi dan harapan, mau jadi apa kamu kelak? Kehidupan seperti apa yang ingin kamu jalani nanti. Menjadi orang sukses, banyak uang, punya gelar berderet, dan banyak hal lain yang menyenangkan.

Tentu saja untuk mencapai atau meraih harapan dan mimpimu itu butuh usaha dan kerja keras. Tidak mudah sih, tetapi jalani saja dan ciptakan suksesmu bila itu baik untuk masa depanmu. Sebab, semua orang memiliki pemahaman sendiri mengenai ukuran kesuksesan. Tentunya, kamu tahu apa yang terbaik buatmu.

Jumat, 05 April 2019

Selalu Ada Rindu yang Menyengat (IDN Times)

IDN Times

Berpura-pura tidak mencintainya seperti hidup tanpa udara

Angin mempermainkan susunan rambut Bri sehingga menutupi pandangannya. Ia menyibak rambut sebahunya ke belakang. Sehelai daun kering yang jatuh di rambutnya ia tepis perlahan. Kemarau tahun ini memang lebih panjang dari biasanya. Kemarau panjang membuat daun-daun kering berserakan memenuhi halaman depan perpustakaan sampai pelataran parkir depan kampus.

Bri memutar langkahnya menuju taman di kantin belakang. Pandangannya tertuju pada satu arah, sudut kantin tempat ia biasa melihat sosoknya. Benar saja, dia sudah ada di sana, asyik mengaduk minumannya dengan sendok plastik. Tangan kanannya segera melambai begitu melihat Bri.

Rabu, 03 April 2019

Gak Melulu Uang, 5 Hal Ini pun Membawa Kebahagiaan dalam Hidupmu (IDN Times)

IDN Times

Sudahkah kamu mewujudkannya?

Bukan rahasia lagi kalau uang bisa membuat sebagian orang merasa berbahagia. Enggak perlu munafik deh, dengan uang segala kebutuhanmu bisa terpenuhi. Dengan uang hasrat sesaatmu pun bisa bisa terpuaskan. Ya, tidak bisa dipungkiri kalau segala masalah bisa saja kamu selesaikan dengan uang. Namun, sebanyak apa pun uang yang kamu miliki, tidak menjamin kamu akan bahagia.

Sesungguhnya, kebahagiaan memang tidak bisa dibeli. Uang hanya bisa memberikan kenyamanan dan kebahagiaan sesaat. Uang memang ampuh sebagai sarana untuk mangalihkan kesedihan atau masalah yang kamu hadapi. Sebatas itu.

Jika ditanya apa yang membuat kamu bahagia, tentu saja banyak hal yang bisa mewujudkannya. Termasuk lima hal di bawah ini.

Selasa, 02 April 2019

Rasa yang Tidak Pernah Sampai ke Hatinya (IDN Times)

IDN Times

Yang sempurna menurut mata kita, tidak harus kita miliki

Menjelang pukul tujuh malam dia tiba dengan membawa plastik berlogo sebuah restoran cepat saji ternama. Hal yang kerap dia lakukan bila kami lembur untuk menyelesaikan laporan penerimaan dan stok barang. Saat menjelang akhir tahun, biasanya perusahaan tempatku bekerja selalu melakukan stock opname. Tempat kerjaku ini punya ritme kerja yang tidak tentu. Menjelang order baru turun ke produksi, kesibukanku kerap menguras waktu dan pikiran. Terutama saat datang barang.

"Makan dulu, biar aku saja yang menyelesaikannya. Kamu perlu makan untuk mengembalikan staminamu," ujarnya sembari mengambil alih tumpukan laporan stok barang di hadapanku.

"Kamu sendiri?" Aku menatapnya sekilas dan segera memalingkan wajahku dengan cepat sebelum ia melihat wajahku yang selalu memerah bila ada di dekatnya.

Minggu, 31 Maret 2019

Lakukan 5 Hal Ini Saat Kamu dan Saudaramu Mencintai Orang yang Sama (IDN Times)

IDN Times

Ingat, ikatan darah lebih kuat

Persaingan tidak hanya terjadi dalam lomba atau kompetisi. Dalam hubungan keluarga pun hal ini kerap terjadi. Tak jarang antara kakak dan adik bersaing untuk mendapatkan perhatian dan sayang dari ayah dan ibu atau anggota keluarga lain. Banyak hal yang bisa memicu persaingan antarsaudara dan bisa saja berakhir dengan perpecahan serta mengusik persaudaraan.

Nah, yang bikin gawat lagi, bagaimana bila persaingan kakak adik ini melibatkan masalah cinta? Kamu dengan kakak atau adikmu menyukai orang yang sama. Langkah apa yang kamu ambil agar tidak terlibat perseteruan tak berujung? Yuk, kita simak!

Hati-hati, 4 Ciri Ini Mengindikasikan Kamu adalah Seorang Pencela (IDN Times)

IDN Times

Semoga bukan kamu

Orang yang punya kebiasaan melontarkan kata-kata negatif atau buruk seperti disebut di atas adalah orang yang bermasalah dalam hidupnya. Bila kamu punya "hobi" meremehkan, menghina, mengecam, mengejek, mencemooh, serta cenderung membeberkan kekurangan seseorang, bisa dipastikan kalau kamu adalah seorang pencela. 

Segala bentuk pencelaan yang terlontar melalui kata-kata ini termasuk ke dalam tindakan verbal bullying (penindasan lewat kata-kata). Tindakan ini bisa memengaruhi emosi dan kondisi psikologis seseorang yang mendapat celaan dan berpengaruh pada kehidupannya.

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi pencela. Seorang pencela biasanya juga memiliki masalah tertentu. Kondisi psikologis si pencela ini pun bermasalah. Nah, beberapa ciri di bawah ini mengindikasikan bahwa kamu memiliki kecenderungan sebagai pencela. Yuk, kita simak!

1. Tidak pernah mensyukuri hidupnya


Perasaan bahwa dirimu tidak seberuntung atau sehebat orang lain membuat kamu tidak pernah mensyukuri apa yang ada pada dirimu. Apa yang orang lain raih dan miliki selalu saja lebih baik daripada yang kamu raih dan miliki sehingga timbul perasaan tidak puas, tidak senang, dan berharap orang lain pun sama sepertimu. Kalau bisa lebih buruk darimu.



2. Hatimu dipenuhi rasa iri


Perasaan ini timbul karena kamu tidak suka ada yang menyaingi. Dengan kata lain ada perasaan iri yang terselubung karena ambisi pribadimu. Menjadi suatu kepuasan tersendiri bila orang lain gagal dan terpuruk. Karena itu kamu akan melontarkan kalimat buruk atau negatif yang melukai hati. Kesedihan, kegagalan, dan penderitaan orang yang kamu hina, cemooh, serta kamu beri komentar menjatuhkan adalah kebahagian bagimu. Saking irinya dengan keberhasilan orang lain, tak jarang timbul rasa benci yang membuat kamu tidak bisa mengontrol dirimu lagi sehingga kerap berakhir dengan fitnah.

3. Kurang memiliki rasa percaya diri dengan kemampuan yang kamu miliki


Saat kamu berada dalam posisi atau kedudukan yang sama, tetapi kamu tidak memiliki prestasi dan tidak seberhasil orang lain. Padahal, kamu dengan orang yang kamu cela tidak jauh berbeda dalam segala hal. Karena itu, kamu akan berusaha mengintimidasi dan menjatuhkan rasa percaya dirinya dengan melontarkan kata-kata negatif untuk menjatuhkan mentalnya. Menjadi suatu kebahagian bila ada yang senasib denganmu.

4. Seorang pencela lupa berkaca pada diri sendiri


Kesalahan, kekurangan, atau kelemahan orang lain sesuatu yang selalu kamu cari-cari. Sebab, hanya dengan itu kamu punya sesuatu atau bahan agar bisa melontarkan ejekan, hinaan, kecaman, serta kata-kata negatif lainnya.

Kamu tidak sadar, tepatnya tidak mau berkaca pada dirimu sendiri, apakah kamu sudah baik atau jangan-jangan lebih buruk dari orang yang kamu cela. Kamu lupa melihat dan menilai dirimu sendiri sebelum menilai kelemahan dan kekurangan orang lain. Sadarlah, secara tidak langsung kamu sedang mencela dirimu sendiri. Jangan sampai gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, tetapi semut di seberang lautan kelihatan.

Buat kamu yang mendapatkan perlakuan buruk dan tidak menyenangkan ini, jangan pernah dianggap. Acuhkan saja karena pencela akan lelah dan bosan sendiri bila kamu bersikap cuek. Pelaku verbal bullying akan senang bila berhasil mengintimidasimu.*




Sumber gambar: Pixabay/Engin_Akyurt
25/03/19

Jumat, 08 Maret 2019

Setelah Aku Berhenti Mencintai Dia (IDN Times)

IDN Times

Aku terjebak di antara dua bersaudara yang bermasalah

"Leon!"

Aku mencoba tidak peduli. Pura-pura tidak mendengar seruannya yang emosional dan histeris. Langkahku semakin panjang, semakin kupercepat, tapi dia tidak menyerah. Ya, karena itulah dulu aku mengaguminya, lalu berubah jadi suka, kemudian sayang. Aku mendengar langkah kakinya semakin mendekat, seperti berlari disertai napas memburu dan "plaakk!", tangannya mendarat di pipiku begitu tubuhku berbalik karena cengkeraman jemarinya di bahuku.

Aku terkesiap, ternganga dengan mata membeliak. Jejak panas yang dia tinggalkan di pipiku adalah gambaran dari perasaannya saat ini.

"Kamu ...." Napasnya masih terengah karena berlari mengejarku dan juga amarah.

Kucoba bersikap tenang, kumulai dengan mengambil napas panjang lalu membuangnya perlahan. Harus berapa kali aku katakan bahwa au tidak bisa melanjutkan hubungan kami. Seharusnya dia berusaha menerimanya. Cinta, bila sepihak, apa layak untuk dipertahankan? Lagi pula, perasaan yang kumiliki pun telah berubah.

"Apa lagi?" tanyaku, enggan. Lelah bila harus membahas sesuatu yang sudah tidak perlu dibahas lagi.

"Siapa Benaya?"

Hah! Aku nyaris tersedak. Mendengar namanya saja bulu kudukku serasa berdiri.

Selasa, 05 Maret 2019

Selalu Ada Orang Ketiga (IDN Times)

IDN Times

Keinginan serakah yang tidak tahu malu, memilikimu seutuhnya

Maika terperenyak, menahan napas, menatap nanar buku bersampul kulit cokelat di tangannya. Mengapa tidak dari dulu ia menyadarinya? Lagi pula, mengapa ia begitu tergoda membuka buku yang bukan miliknya? Kelancangan yang berbuah penyesalan karena saat ia menyadari, begitu banyak luka yang telah ia torehkan di hatinya.

Tahukah kamu, bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa dia tahu separah dan sedahsyat apa badai yang dia tinggalkan di hatimu? Kamu pasti tidak tahu karena kamu tidak pernah mengalaminya. Lelaki selalu datang dan pergi dalam kehidupanmu. Dengan mudah kamu mendapatkan dan menyerahkan hatimu pada lelaki yang sesuai dengan kriteriamu. Kamu memang tidak akan mengetahuinya, betapa tersiksanya mencintai orang yang setiap saat ada di dekatmu, bersamamu, sementara kamu tidak tahu sedalam apa perasaannya. Itulah aku, yang menyimpan cinta untukmu.

Jumat, 01 Maret 2019

Saat Menyimpan Rasa Sakit Hati, Hanya 5 Hal Ini yang Kamu Dapatkan (IDN Times)

IDN Times

Tulus memaafkan adalah langkah awal dan kunci untuk bisa berdamai dengan rasa sakit itu

Mungkin kamu pernah merasakan sakit hati yang sulit sekali disembuhkan akibat perlakuan seseorang terhadapmu. Bisa jadi lukanya sudah tertancap dalam di hatimu. Entah itu karena perlakuan seseorang yang kamu kenal seperti sahabatmu, kekasih, saudara, bahkan bisa juga orang tuamu sendiri. Saking terlukanya, sulit bagimu untuk memaafkan orang yang menyebabkannya.

Tentu saja menyimpan sakit hati yang bermuara dendam ini bukan hal yang menyenangkan. Setiap kali kamu mengingatnya, perasaanmu seketika berubah buruk. Emosimu pun kembali tersulut. Rasanya tidak ada lagi kenyamanan dalam dirimu. Perasaan ini sangat tidak baik dan menyiksa, membuat kamu sulit untuk merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Perasaan yang dapat merugikan dirimu sendiri.

Nah, apa saja yang bisa merugikan dirimu bila rasa sakit itu masih kamu pelihara?

Kamis, 28 Februari 2019

Tidak Semua Cowok Berengsek, Kak (IDN Times)

IDN Times

Sesuatu terasa lepas dari jiwanya seiring nyeri yang menggigit di sudut hati

"Kamu masih marah, Mima?" Kristo bertanya lirih sementara matanya yang kerap membuat Jemima terpesona di awal perkenalan mereka menatap Jemima sendu.

"Apa perlu kamu menanyakan hal itu, Kris? Sampai kapan aku harus selalu mengerti dan memaafkanmu? Kamu selalu saja membuat aku kecewa dan marah. Jangan-jangan, kamu sengaja melakukan semua ini karena kamu sudah enggak sayang aku lagi. Benar, kamu enggak sayang aku lagi, Kris?" cecar Jemima dengan suara tertahan dan getir. Raut wajahnya terlihat emosional.

"Kamu kok punya pikiran jelek begitu sih, Mima? Enggak pernah terlintas di pikiranku berpaling darimu, apalagi menyakitimu. Kamu tahu, aku sangat mencintaimu."

Selasa, 26 Februari 2019

Layak Diketahui, 5 Hal Menarik di Balik Filosofi Seribu Bangau Kertas (IDN Times)


IDN TIMES

Tentang harapan, kesetiaan, kemakmuran, dan perdamaian
Mungkin kamu pernah mendengar atau membaca cerita yang berkaitan dengan sebuah legenda yang sangat fenomenal di Jepang. Mungkin juga di seluruh dunia sudah tahu tentang hal ini. Tradisi melipat seribu bangau kertas atau lebih dikenal dengan nama Senbazuru. Di Jepang tradisi melipat seribu bagau kertas ini sudah menjadi suatu kepercayaan.
Ketika seseorang ingin permohonannya terkabul, ia harus melipat seribu kertas menjadi berbentuk bangau (tsuru), lalu merangkainya dengan seutas benang. Rangkaian seribu bangau kertas itu kemudian digantung di rumah dengan harapan satu permohonan yang diucapkannya akan terkabul. Ternyata, ada cerita menarik lainnya di  di balik filosofi seribu bangau kertas ini.