Tampilkan postingan dengan label Majalah Hai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Majalah Hai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Desember 2014

Andai Nat Tahu (Majalah HAI 29 September 2014)

Majalah HAI 29 Sepember 2014
Nat yang membuatku seperti ini. Benar, Nat, dengan ketidakpeduliannya akan perasaan yang berkecamuk di hatiku. Perasaan yang telah kumiliki dan kujaga sejak kami tumbuh bersama.  

Lelahmu jadi lelahku juga
bahagiamu bahagiaku pasti
berbagi takdir kita selalu
kecuali tiap kau jatuh hati

Ya, aku akan melakukan apa pun asal bisa membuat Nat bahagia. Sekalipun harus bersandiwara di hadapannya. Seperti saat ini. 

"Sorry, aku benar-benar lupa kalau ada janji dengan Regia."

Ah, Nat berbohong lagi. Menggunakan alasan yang sama agar bisa pergi bersama Timo dan melewatkan ritual kami setiap bulan: menonton di bioskop. Aku sering iri pada setiap cowok yang dekat dengan Nat. Saat Nat jatuh cinta mereka menduduki tempat teratas di hatinya. Lebih penting dari ikatan di antara kami.

Nat memang sosok terdekat dalam hidupku. Sejak SD kami selalu bersama. Nat yang tetangga baru, tepat di sebelah rumahku, tidak pandai berteman. Sama sepertiku. Selain itu, orang tuanya pun tidak mengizinkan dia bergaul dengan sembarang orang. Alhasil, akulah orang terdekat Nat hingga sekarang. Di samping buku, film serta musik yang mendekatkan kami. 

Jumat, 05 Desember 2014

Orang Ketiga (Majalah HAI 26 Mei 2014)

Majalah HAI edisi 26 Mei 2014
"Arga ...."

"Hmmm ...." 

"Aku senang karena kamu selalu ada untukku."

Aku mengangguk dan memberi senyum tipis untuknya. Hal kecil yang selalu kulakukan setiap kali Narin sedang bersedih atau kesal. Sama seperti kali ini, saat ia masih sibuk menyeka air matanya karena baru saja bertengkar dengan Yunus, cowoknya. Yang menurutnya berubah karena mulai suka bohong dan tidak setia.

"Ini sudah yang kesekian kalinya dia membohongiku. Dia bilang tidak bisa menemaniku mencari buku, ternyata dia pergi nonton dengan cewek lain," ujarnya terbata di antara isak tangisnya.  

"Kamu tahu dari mana kalau dia jalan dengan cewek lain?" tanyaku seraya menatapnya cukup lama.  

"Ada seseorang yang memberitahuku dan dia mengirimkan buktinya." Narin segera menyerahkan ponselnya padaku.

Aku segera memeriksanya seperti biasa kulakukan bila Narin meminta pendapatku. Ada beberapa foto Yunus bersama seorang gadis tengah bergandengan tangan menuju pintu masuk sebuah bioskop. Sebenarnya, tanpa perlu kulihat lagi aku sudah melihat foto-foto itu sebelumnya.

"Belum tentu juga cewek itu selingkuhannya, Rin," sanggahku.

"Kamu nggak tahu, Ar. Perasaanku sebagai cewek tahu kalau dia ada main dengan cewek lain di belakangku. Sikapnya selama ini telah membuktikan itu. Lagi pula, mengapa dia harus berbohong?" Narin tampak sewot.

Aku hanya bisa menghela napas. Narin mudah sekali percaya tanpa mau menyelidikinya dulu. Satu sifatnya yang membuat aku sering besitegang dengannya di awal pertemanan kami, namun sangat kusyukuri kemudian. 


"Aku nggak ngerti, mengapa semua cowok yang dekat denganku dan bilang sayang ternyata yang paling sering menyakiti dan mengecewakan aku."



--- alp ---