Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Maret 2020

Nat dan Jari-jarinya (Solopos 18 Oktober 2015)

Cerpen ini dimuat di Solopos edisi 18 Oktober 2015

“Nat, tunggu!” panggil Haura, berusaha menghentikan langkah Nat yang tergesa begitu keluar kelas. Namun, Nat seolah berusaha menghindarinya.

“Aku harus segera pulang, Ra! Ibuku sedang sakit!” Nat balas berteriak.

Haura hanya bisa menghela napas panjang. Sebenarnya, ia juga merasa tidak enak hati dan segan untuk menanyakan, apa yang dilakukan Nat saat ulangan Matematika tadi? Haura tidak percaya, Nat melakukan kecurangan itu. Meskipun ia tahu Nat lemah dalam pelajaran Matematika, tetapi Haura tidak suka bila sahabat baiknya itu menyontek saat ulangan.

Kamis, 15 Juni 2017

Minka dan Buah Atap (Kompas Klasika 27 November 2016)

Cernak ini dimuat di Kompas Klasika edisi 27 November 2016
"Gula putih, kayu manis, daun pandan dan daun jeruk. Sudah kamu catat?” ulang Ibu.

Minka mengangguk. Minka membaca kembali daftar belanja yang akan Ibu beli di Pasar Antri, Cimahi.

"Jangan lupa, pewarna makanan," tambah Ibu.

"Ibu mau buat apa?" Minka bertanya penasaran.

Ibu senang membuat makanan. Suka mencoba resep-resep baru. Minka selalu suka mencoba hasil masakan Ibu. Meskipun bentuknya tidak sesuai dengan gambar di buku resep atau internet.

Minggu, 21 Juni 2015

Omelan yang Manis (Padang Ekspres 7 Juni 2015)

Padang Ekspres

Mei menggeliat dengan malas. Untuk kesekian kali ia menguap lebar-lebar. Matanya masih terasa berat untuk dibuka. Andai Bunda tidak membangunkannya.

Mei heran, sepertinya Bunda tidak suka melihat anaknya beristirahat dengan tenang dan nyaman. Sepagi ini, saat ayam jantan baru saja berkokok, Bunda selalu saja mengusiknya dengan celoteh panjang yang selalu berulang setiap pagi. Mirip petasan! Tidak terkecuali hari Minggu. Uh, kapan sih Bunda membiarkan anaknya menikmati tidur nyaman sampai siang?

"Bangun, Mei, jangan malas begitu, Nak! Nanti rejekimu dipatok ayam. Malu dong keduluan bangun sama ayam," Bunda menepuk pantatnya berkali-kali. Melihat Mei tidak bereaksi, Bunda menarik selimut Mei

Jumat, 16 Januari 2015

Ketika Ibu Mogok Cerewet (Suara Merdeka 30 Maret 2014)

Cernak ini dimuat di Suara Merdeka 30 Maret 2014
"Lukas, tasmu jangan kamu lemparkan ke kursi! Jangan lupa juga simpan sepatumu di lemari sepatu!" teriak Ibu dari dapur begitu Lukas baru saja menyandarkan tubuhnya di kursi.  

Lukas urung melempar tasnya ke kursi. Ukh, Ibu membuat siang yang panas dan gerah semakin menambah panas hati Lukas saja dengan teriakannya yang selalu melarang dan menyuruh ini-itu. Setahu Lukas, ibu teman-temannya tidak ada yang secerewet Ibu.

"Lukas ...!" teriak Ibu lagi.

"Iya, Bu, iya. Lukas heran, deh, setiap hari Ibu selalu saja mengomel dan melarang ini-itu. Ibu teman-teman Lukas juga nggak ada yang secerewet Ibu," gerutu Lukas, menyela kata-kata Ibu seraya bangkit begitu melihat Ibu muncul di ambang pintu.

Ibu menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Lukas memang sulit diatur, sembrono, dan pemalas, sehingga kerap membuat Ibu kesal. Entah bagaimana lagi agar Lukas berubah. Padahal, Ibu melakukannya untuk kebaikannya juga, tapi Lukas selalu menganggap Ibu cerewet. Lukas harus kena batunya dulu agar sadar, batin Ibu. 

Seperti biasa, Lukas selalu sibuk bila hendak pergi sekolah.  

"Ibu, kaus kakiku di mana?" tanya Lukas berteriak.

"Kemarin kamu simpan di mana?" Ibu balik bertanya seraya menyiapkan sarapan pagi, tapi ibu tidak mengomel dan ikut sibuk mencari seperti biasa.